oleh

Umat Muslim, Waspadalah dengan Perdebatan yang Berujung Prasangka. Ini Pembahasannya dalam Islam

PortalMadura.Com – Bagi sebagian orang, berdebat telah menjadi bagian dari gaya hidup. Seolah hidup ini ada yang kurang jika tak mengisi hari dengan perdebatan yang entah kapan akan diakhiri. Padahal, berdebat ternyata justru membuat badan tak sehat. Ini bukan berarti kita tak boleh beda pendapat, tetapi, apakah harus semua perbedaan diakhiri dengan perdebatan?

Salah satu medan yang paling kerap digunakan untuk melakukan berbagai perdebatan belakangan ini adalah media sosial. Di medan ini, orang cenderung menjadi lebih galak, lebih garang dan lebih mudah menyerang. Ada banyak penelitian soal ini, salah satunya karena orang cenderung merasa lebih bebas melakukan apa saja di dunia maya dibandingkan di ‘dunia nyata’.

Kenapa kita masih mudah terpancing untuk berdebat dan berprasangka?

Salah satu sumbu untuk kobaran api perdebatan adalah prasangka. Sesuai dengan namanya, prasangka adalah sangkaan yang disematkan sebelum dilakukan pembuktian. Pada tahap tertentu, prasangka yang tidak segera dikonter dengan fakta akan menggumpal menjadi keyakinan buta; sebuah keyakinan yang tak boleh dipertanyakan, apalagi diragukan.

Dalam Islam, Allah berulangkali memerintahkan kita untuk menjauhi prasangka. Dalam QS Yunus:36 misalnya, Allah menegaskan bahwa “Sesungguhnya prasangka itu tak mendatangkan kebenaran apapun!” dalam ayat yang lain, di QS Al Hujurat: 12, Allah bahkan menyebut sebagian dari prasangka adalah dosa.

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah memperbanyak prasangka, karena sebagian prasangka itu dosa.”

Tentang “sebagian prasangka” seperti disebut di ayat di atas, Imam Sufyan al-Tsauri menjelaskan bahwa prasangka ada dua jenis; dan hanya satu jenis saja yang termasuk dalam kategori prasangka yang berdosa.

Dua jenis prasangka tersebut adalah prasangka yang diungkapkan dan prasangka yang hanya disimpan di hati. Jenis prasangka yang pertama lah yang disebutnya sebagai prasangka yang mendatangkan dosa.

Meski begitu, bukan berarti kita diperbolehkan untuk menyimpan prasangka di dalam hati, sebab bisa jadi, prasangka yang diungkapkan berasal dari sangkaan yang telah lama disimpan. Karenanya, sudah seharusnya kita membersihkan diri dari berbagai jenis prasangka.

“Takutlah kalian berprasangka, karena ia merupakan sedusta-dusta perkataan,” demikian kata nabi sebagaimana diriwayatkan oleh Imam al-Tirmidzi dari Abu Hurairah r.a.

Menghilangkan prasangka adalah langkah awal untuk menghindari perdebatan. Kita tentu boleh untuk tidak setuju dengan pendapat atau pandangan orang lain, tetapi kita tak harus memilih perdebatan sebagai jalur penyelesaian.

Silakan beropini, namun tetap dengan asas saling menghormati.

Jadi Intinya, Janganlah kita selalu berprasangka. Karena sebagian prasangka itu adalah dosa. prasangka yang tak ada fakta itu bisa berujung pada perdebatan yang akhirnya menimbulkan kebencian dan cacian kepada orang lain. Maka dari itu, kita harus berhati-hati dalam menanggapi suatu hal. Bisa jadi apa yang kita tidak suka itu adalah yang baik untuk kita. Dan bisa jadi yang menurut baik untuk kita itu tidak baik menurut Allah SWT. Semoga kita selalu menjadi orang yang berprasangka baik serta selalu berpikiran positif untuk segala hal. Karena dengan begitu, Insya Allah hidup kita akan selalu damai, aman, serta tentram tanpa permusuhan dan kebencian yang menghantui. Semoga bermanfaat, Amiin Allahhumma Amiin. (islami.co/Anek)


Tirto.ID
Loading...

Komentar