Wajib Tahu, Ini 5 Adab Bertamu Dalam Islam

  • Bagikan
Wajib Tahu, Ini 5 Adab Bertamu Dalam Islam
Ilustrasi (Kapanewon)

PortalMadura.Com – Menjalin tali silaturrahmi memiliki banyak manfaat, seperti melapangkan rezeki, memperpanjang umur, menciptakan kerukunan antar sesama dan lain sebagainya. Hal ini bisa dilakukan salah satunya dengan cara sering berkunjung atau bertamu.

Seorang muslim perlu saling mengunjungi atau bertamu dengan sanak keluarga, sahabat, teman untuk memelihara tali silaturrahmi. Namun, muslimin wajib tahu beberapa adab dalam bertamu.

Ada beberapa adab bertamu yang perlu Anda ketahui dan praktikan saat bertamu. Apa saja? Sebagaimana dilansir PortalMadura.Com dari laman okezone.com yang dikutip dari dari situs resmi Majelis Ulama Indonesia (MUI), berikut ini penjelasannya:

Memiliki Niat yang Baik

Dalam melakukan kegiatan bertamu, setiap orang diharuskan memiliki niat yang baik, seperti untuk menyambung silaturahmi, menjenguk, atau sebagainya. Sebab Allah SWT berfirman bahwa sebaik-baik tamu adalah yang membawa kabar gembira. Hal ini tercantum dalam Surat Al Hijr Ayat 51–54:

Artinya: “Dan kabarkanlah kepada mereka tentang tamu-tamu Ibrahim; Ketika mereka masuk ke tempatnya, lalu mereka mengucapkan: ‘Salaam.’ Berkata Ibrahim, ‘Sesungguhnya kami merasa takut kepadamu.’ Mereka berkata, ‘Janganlah kamu merasa takut, sesungguhnya kami memberi kabar gembira kepadamu dengan (kelahiran seorang) anak laki-laki (yang akan menjadi) orang yang alim.’ Berkata Ibrahim, ‘Apakah kamu memberi kabar gembira kepadaku padahal usiaku telah lanjut, maka dengan cara bagaimanakah (terlaksananya) berita gembira yang kamu kabarkan ini?’.”

Meminta Izin dan Berkunjung di Waktu yang Tepat

Rasulullah SAW mengajarkan kaum Muslimin bahwa batasan meminta izin untuk bertamu sebanyak tiga kali. Sebagaimana sabda beliau yang artinya: “Dari Abu Musa Al-Asy’ary radhiallahu’anhu, dia berkata, ‘Rasulullah SAW bersabda: Minta izin masuk rumah itu tiga kali, jika diizinkan untuk kamu (masuklah) dan jika tidak maka pulanglah!’.” (HR Bukhari dan Muslim)

Selain itu, Islam juga menganjurkan Muslimin untuk bertamu di waktu yang tepat serta menghindari tiga waktu aurat dalam Islam, yaitu sehabis Zuhur, sesudah Isya, dan sebelum Subuh.

Hal ini tercantum dalam Surat An-Nur Ayat 58 yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum balig di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari) yaitu: sebelum sembahyang Subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar)mu di tengah hari dan sesudah sembahyang Isya. (Itulah) tiga aurat bagi kamu. Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu. Mereka melayani kamu, sebahagian kamu (ada keperluan) kepada sebahagian (yang lain). Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. Dan Allah Mahamengetahui lagi Mahabijaksana.”

Kedua hal ini memiliki kaitan yang cukup erat karena rumah ibarat penutup aurat bagi penghuni di dalamnya. Sehingga bagi orang yang bertamu diwajibkan untuk meminta izin terlebih dahulu agar penerima tamu dapat menyiapkan kondisi rumah.

Bersalaman

Bersalaman atau berjabatan tangan merupakan salah satu hal yang cukup penting untuk menghormati dan mempererat tali silaturahmi sesama umat Islam.

Sopan Santun dalam Bersikap dan Bertutur

Hal ini dilakukan untuk menghormati dan menghargai penerima tamu. Selain itu, perbuatan tersebut juga dapat menghindarkan kita dari perbuatan yang menyinggung atau menyakiti orang lain.

Menerapkan Batas Waktu Bertamu

Selain berkunjung di waktu yang tepat, Muslimin juga harus memerhatikan batas waktu dalam bertamu. Sebab jika seseorang bertamu terlalu lama dikhawatirkan akan memberikan rasa tidak nyaman dan akan membebani sang penerima tamu.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang artinya: “Menjamu tamu adalah tiga hari, adapun memuliakannya sehari semalam dan tidak halal bagi seorang Muslim tinggal pada tempat saudaranya sehingga ia menyakitinya. Para sahabat berkata: Ya Rasulullah, bagaimana menyakitinya? Rasulullah SAW berkata: Sang tamu tinggal bersamanya sedangkan ia tidak mempunyai apa-apa untuk menjamu tamunya.” (HR Baihaqi)

Wallahu a’lam bishawab.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.