Waspadai ‘Sex Tourism’ Saat Asian Games

sex tourism
Ilustrasi. Warga melintas di depan ornamen menyambut Asian Games di Taman Menteng, Jakarta, Senin, 18 Juni 2018. (Megiza Asmail - Anadolu Agency)
    Bagikan:

PortalMadura.Com, Jakarta – Organisasi internasional End Child Prostitution and Trafficking (ECPAT) meminta warga Indonesia mewaspadai terjadinya eksploitasi seksual anak selama Asian Games ke-18 digelar.

Pengawasan terhadap anak Indonesia kali ini, menurut ECPAT, menjadi sangat penting mengingat temuan sederet kasus pada acara-acara olahraga dunia.

Pada FIFA World Cup 2014, misalnya. Sejumlah anak perempuan yang berasal dari Favela da Paz, Brazil ditemukan sedang dibawa oleh pengedar narkoba dengan bus untuk dieksploitasi secara seksual. Korban kala itu tidak hanya berasal dari Brazil, tetapi juga berasal dari negara-negara lain.

Sepanjang gelaran Piala Dunia itu, pemerintah Brazil menerima telepon darurat untuk kekerasan dan eksploitasi anak sebanyak 124ribu aduan.

Terakhir, pada Piala Dunia di Rusia, sebuah media olahraga melaporkan adanya temuan sepuluh anak Kebangsaan Nigeria yang akan diberangkatkan ke Rusia untuk dijual selama ajang olahraga itu berlangsung.

Tak hanya di tingkat global, agenda olahraga di tingkat regional juga terjadi. Seperti pada Asian Games 2014 di Korea Selatan. Tercatat ada dua kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh official team sebuah negara Timur Tengah dan seorang pesepakbola asal Timur Tengah.

“Karena melihat sistem perlindungan hukum pada anak rendah, maka ada yang memanfaatkan even olahraga untuk melakukan sex tourism. Dan ketika ditawarkan prostitusi anak, orang tersebut biasanya tidak akan menolak,” ujar Koordinator Nasional ECPAT Indonesia, Ahmad Sofian. dilaporkan Anadolu Agency, Sabtu (18/8/2018).

Pencegahan eksploitasi seksual selama Asian Games ini, menurut ECPAT, sudah seharusnya juga melibatkan pengusaha hotel dan penginapan.

Hotel harus menyajikan informasi dan melakukan pengawasan terhadap tamunya, sehingga tidak ada anak-anak Indonesia yang dibawa masuk ke hotel oleh wisatawan, atlet, ataupun perwakilan negara yang bertanding.“Selain hotel, pengusaha travel juga berperan strategis. Pengusaha travel bisa membantu melakukan pengawasan dan sosialisasi untuk pencegahan eksploitasi seks pada anak,” kata Ahmad.

Terakhir, ECPAT Indonesia mengimbau agar Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia dan INASGOC – sebagai panitia penyelenggara Asian Games – dapat mengupayakan special hotline untuk perlindungan anak.

“Ini dapat dilakukan, sehingga ketika ada masyarakat yang menemukan atau melihat eksploitasi seksual pada anak, dapat langsung melapor,” tukas Ahmad. (AA)


Ikuti Berita Kami Lainya di Google Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.