oleh

Zaman Rasulullah, Ini 7 Nama yang Mengaku Sebagai Nabi

PortalMadura.Com – Di zaman Rasulullah SAW, ada beberapa orang yang memproklamirkan kenabiannya. Bahkan ternyata, hal itu sudah ada sejak zaman jahiliyah. Mereka memberikan pengakuan bahwa telah mendapat wahyu dari Allah SWT.

Sebagaimana dilansir PortalMadura.Com dari laman okezone.com, berikut beberapa orang yang mengaku sebagai nabi atau nabi palsu.

Al-Aswad al-‘Ansi

Al-Aswad al-‘Ansi memproklamirkan diri sebagai nabi di Yaman pada masa-masa akhir kehidupan Nabi Muhammad SAW. Telah murtad dari agama Islam mengaku meraih nubuwwah (kenabian). Kemurtadannya adalah kemurtadan pertama yang terjadi dalam Islam pada zaman Rasulullah SAW.

Al-Aswad al-‘Ansi bersama para pengikutnya bergerak cepat dan menguasai hampir seluruh wilayah Yaman hanya dalam waktu tiga atau empat bulan. Nabi Muhammad SAW pun mengirim surat kepada kaum Muslimin Yaman yang berisi anjuran perang melawan al-Aswad al-Ansi.

Kaum Muslimin Yaman menyambut anjuran Rasulullah dan berhasil menaklukkan al-Aswad di rumahnya sendiri dan tewas. Dia tewas oleh para kaum Muslimin berkat bantuan wanita yang dinikahi al-Aswad secara paksa setelah membunuh suaminya.

Dikutip dari buku Kiamat Sudah Dekat? Oleh Dr. Muhammad al-’Areifi, Ahad (31/1/2021) disebutkan; wanita ini adalah seorang mukminah yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya . Setelah al-Aswad terbunuh, Islam di Yaman pun semakin kuat.

Kaum Muslimin Yaman lalu menulis surat kepada Rasulullah SAW guna menyampaikan berita gembira terbunuhnya al-Aswad. Namun, pada malam yang sama, Rasulullah sudah menerima kabar dari langit mengenai hal itu.

Kabar dari langit pun menyampaikannya kepada para sahabat. Al-Aswad al-Ansi berkuasa di Yaman selama kurang lebih tiga sampai empat bulan sampai ia tewas terbunuh.

Thulaihah ibn Khuwailid al-Asadi

Kaum Muslimin sudah berkali-kali menggelar operasi militer untuk menumpasnya. Akhirnya, Thulaihah kembali memeluk agama Islam, dan menjadi seorang Muslim yang baik.

Thulaihah ibn Khuwailid al-Asadi lalu bergabung ke dalam angkatan bersenjata kaum Muslimin, dan berjuang di jalan Allah dengan sebaik-baiknya. Lalu gugur sebagai seorang syahid dalam Perang Nihawand.

Musailamah al-Kadzdzab

Al- Kadzdzab mengklaim telah menerima wahyu dalam kegelapan. Untuk menumpasnya, Abu Bakar ash-Shiddiq pun menggelar operasi militer di bawah komando Khalid ibn al-Walid, Ikrimah ibn Abi Jahal, dan Syarahbil ibn Hasanah.

Pasukan ini lalu dihadang oleh Musailamah yang membawa bala tentara berkekuatan 40 ribu serdadu. Pertempuran pun pecah dengan dahsyat, yang berakhir dengan kemenangan total legiun kaum Muslimin.

Musailamah sendiri terbunuh di tangan Wahsyi ibn Harb Ra. Kebenaran menang dan panji tauhid und semakin menjulang.

Sajah binti al-Harits at-Taghlabiyyah

Dia adalah seorang Arab-Kristen yang mengaku sebagai nabi setelah wafatnya Rasulullah SAW. Dia punya banyak massa yang berasal dari sukunya sendiri maupun dari kabilah-kabilah sekitarnya.

Sajah melakukan agresi militer ke wilayah-wilayah suku tetangga. Bersama pasukannya terus bergerak hingga tiba di al-Yamamah. Di sana, dia pun bertemu dengan Musailamah al-Kadzdab. Kemudian mengakui klaim kenabian Musailamah dan menikah dengannya.

Setelah Musailamah terbunuh, Sajah kembali ke negerinya dan. Lalu tinggal lagi bersama sukunya, Bani Taghlab. Selanjutnya, dia masuk Islam dan menjadi pemeluknya yang taat. Seterusnya pindah ke Bashrah dan meninggal dunia di sana.

Al-Mukhtar ibn Abi Ubaid ats-Tsaqafi

Al-Mukhtar ibn Abi Ubaid ats-Tsaqafi yang muncul pada masa tabi’in. Semula, dia berpura-pura sebagai seorang Syi’ah. Sehingga, banyak orang Syi’ah yang menjadi pengikutnya. Setelah itu, ia mengaku Jibril AS turun kepadanya membawa wahyu.

Sejumlah pertempuran antara pasukannya dan pasukan kaum Muslimin di bawah komando Mush’ab ibn Zubair terjadi dan berakhir dengan terbunuhnya al-Mukhtar.

Al-Harits ibn Sa’id al-Kadzdzab

Al-Harits ibn Sa’id al-Kadzdzab yang pada mulanya menampilkan dirinya sebagai seorang ahli ibadah di Damaskus. Setelah itu, ia mengaku dirinya sebagai nabi.

Ketika mengetahui Khalifah Abdul Malik ibn Marwan sudah mendengar tentangnya, al-Harits pun bersembunyi. Akan tetapi, ada seorang pria Bashrah yang mengetahui keberadaannya. Pria ini lantas berpura-pura beriman kepadanya. Hingga akhirnya, al-Harits selalu mengizinkannya bertemu kapan saja ia mau.

Setelah berhasil meraih kepercayaan al-Harits, pria ini lalu menghubungi Khalifah Abdul Malik. Khalifah pun mengirim pasukan untuk menangkap al-Harits. Khalifah Abdul Malik kemudian memanggil sejumlah ulama dan ahli agama untuk menasihati dan mengajari al-Harits, bahwa pengakuannya sebagai nabi adalah bisikan setan.

Namun, al-Harits tidak mau menerima nasihat mereka dan tidak bersedia bertobat. Akhirnya, Khalifah menjatuhkan hukuman mati kepadanya.

Mirza Ghulam Ahmad al-Qadiyani

Mirza Ghulam Ahmad al-Qadiyani yang muncul kurang lebih satu abad yang lalu, dia mengaku nabi dan menerima wahyu dari langit. Ia juga menyatakan, Allah SWT sudah memberinya kabar gembira bahwa ia akan hidup selama delapan puluh tahun. la pun memiliki para pengikut.

Para ulama tidak tinggal diam. Mereka menentangnya dan memberikan penjelasan kepada masyarakat bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah salah seorang pendusta besar. Ulama yang paling gigih melawan Mirza Ghulam Ahmad adalah Syaikh Tsana’ ullah al-Amir Tasri.

Pada tahun 1326 H/1908 M, Mirza Ghulam Ahmad menantang Syaikh Tsana’ ullah, melakukan sumpah bahwa pihak yang berdusta di antara mereka berdua akan mati. Mirza Ghulam Ahmad berdoa kepada Allah agar pihak yang sesat binasa dan terserang penyakit lepra yang menyebabkan kematian.

Satu tahun berselang. Mirza Ghulam Ahmad tertimpa doanya sendiri. Ayah mertuanya menuturkan akhir hayat sang menantu dengan berkata, “Ketika penyakitnya semakin parah, Mirza Ghulam membangunkanku, Aku menemuinya dan memeriksa rasa sakit yang dikeluhkannya. lalu berkata kepadaku, ‘Aku terpapar kolera. Selelah itu, ia tak pernah bisa berkata-kata dengan jelas sampai meninggal.”

Rewriter : Desy Wulandari
Sumber : Okezone.com

Komentar