3 Karakter Pendusta Agama, Apa Anda Termasuk?

3 Karakter Pendusta Agama, Apa Anda Termasuk
Ilustrasi
    Bagikan:

PortalMadura.Com – Taat pada ajaran agama Islam menjadi ciri seorang mukmin yang bertakwa. Dalam hal ini setiap umat muslim diwajibkan untuk menjalankan perintah Allah SWT dan menjauhi semua larangan-Nya.

Menyikapi hal tersebut, sejauh ini mungkin sudah banyak orang yang menjalankannya. Bahkan, mereka terlihat sangat khusyuk ketika ibadah dan mencitrakan diri sebagai orang yang saleh.

Namun, terkadang sebagian orang lupa bahwa ada sindiran Allah SWT untuk mereka yang mengaku bertakwa. Sindiran itu berupa julukan sebagai ‘pendusta agama’, seperti tercantum pada ayat pertama Surat Al Ma’un.

Surat Al Maun ayat 1-3 ini menjelaskan siapa yang dimaksud para pendusta agama.

Tahukah engkau orang yang mendustakan agama?. Dia adalah orang yang menghardik anak yatim. Dan tidak mau memberi makan orang miskin“.

Baca Juga:  4 Keistimewaan Salat Tahajud 7 Hari 7 Malam

Sindiran ini tertuju kepada mereka yang beragama secara formal. Mereka rajin salat, puasa, baca Alquran, namun tidak peduli pada anak yatim maupun saudaranya yang tidak mampu.

Ciri Menurut Ulama
Imam Hatim bin Ulwan Al Ansham, seperti dikutip Syeikh An Nawawi Al Bantani dalam kitabnya Syarah Qami’ut Thughyah, menafsirkan ayat ini dan mengetengahkan tiga ciri pendusta agama.

Siapa saja yang mengaku tiga hal tanpa disertai tiga hal, maka ia pendusta. Pertama, siapa saja yang mengaku cinta Allah tanpa sikap wara’ dari yang diharamkan, maka ia pendusta. Kedua, siapa saja yang mengaku cinta Nabi Muhammad SAW tanpa sikap ‘mencintai’ kefakiran, maka ia pendusta. Ketiga, siapa saja yang mengaku cinta surga tanpa menginfakkan hartanya, maka ia pendusta“.

Baca Juga:  5 Doa Malam Pertama yang Perlu Pasutri Amalkan

Islam tidak hanya menekankan aspek formal dalam beragama seperti salat, puasa, zakat, haji, menikah, bermuamalah, dan lain sebagainya. Meski sudah menjalankannya, umat Islam masih punya tanggung jawab yaitu ibadah sosial.

Mengaku cinta Rasulullah tapi benci pada anak yatim dan kaum miskin menandakan cintanya palsu. Bukti cinta itu adalah kepedulian terhadap kaum dan mereka yang terpinggirkan.

Baca Juga : Amankan Rekapitulasi Suara Pemilu Tingkat KPU Sumenep, 700 Personel Dikerahkan

Sementara mereka yang dalam kefakiran, Rasulullah tidak memerintahkan untuk berdiam diri. Mereka tetap harus pergi ke pasar untuk berikhtiar. Wallahu A’lam.


Ikuti Berita Kami Lainya di Google Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.