oleh

5 Cara Mendidik Anak Dalam Islam Sesuai Usia

PortalMadura.Com – Anak merupakan titipan Allah SWT yang kelak akan hidup mandiri dan lepas dari orangtuanya. Oleh karena itu, mereka perlu dibekali keimanan dan aturan yang tegas dalam menjalani kehidupan. Agar menjadi panutan yang baik bagi orang lain.

Dalam Alquran, ada beberapa cara mendidik anak yang disesuaikan dengan tingkatan usia dan kematangan cara berpikirnya. Sebagaimana dilansir PortalMadura.Com dari laman okezone.com, berikut ini penjelasannya:

Gempur Rokok Ilegal Pemkab Sumenep

BACA : Jelang Liga 3 Jatim 2021, Madura FC Masih Butuh Empat Laga Uji Coba

Pendidikan Kasih Sayang dan Nasihat

Dikutip dari laman Kementerian Agama, pendidikan yang pertama diberikan kepada anak adalah kasih sayang dan nasihat. Kasih sayang mempunyai pengaruh positif terhadap perkembangan serta pertumbuhan anak, antara lain dapat meningkatkan kerja otak, menimbulkan semangat, adanya kedekatan psikis antara orangtua dan anak, serta membuat anak lebih terbuka dan percaya diri.

Kemudian pendidikan kasih sayang dan nasihat sebagaimana terdapat dalam Alquran Surat Luqman Ayat 11, 17, dan 18. Pada ayat 11 dijelaskan bagaimana Luqman berlaku lemah lembut dalam menasihati anaknya dengan menggunakan kata, “Wahai anakku…”

Begitupun pada ayat 17 dan 18, Luqman mendidik anaknya dengan penuh bijaksana, tanpa kekerasan, dan tidak terkesan menakutkan. Pendidikan dengan kasih sayang serta nasihat ini sesuai hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim:

“Dari Umar bin Abu Salamah radhiyallahu anhu berkata: ‘Ketika masih kecil, aku pernah berada di bawah pengawasan Rasulullah SAW, dan tanganku bergerak mengulur ke arah makanan yang ada dalam piring. Maka Rasulullah SAW berkata kepadaku, ‘Wahai anak, sebutkanlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu’.

Pendidikan Bersikap Apatis

Pendidikan berikutnya dapat dilakukan dengan bersikap apatis. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), apatis adalah bersikap acuh tidak acuh, tidak peduli, dan masa bodoh. Pendidikan seperti ini lebih dikhususkan kepada anak yang berada pada fase awal usia sekolah dasar.

Karena pada usia ini, anak belajar untuk menemukan identitas dirinya. Orang dan benda di sekelilingnya tentu ikut membangun karakter pada dirinya. Semangat untuk mencontoh dan meniru gerak-gerik, gaya bahasa maupun bahasa tubuh orang lain terkadang menjadi hal yang sering dilakukan untuk menemukan dan mengenal siapa dirinya.

Dalam proses identifikasi inilah, seorang anak perlu mendapatkan bimbingan tentang apa yang diperbuat dan apa yang dia katakan. Jika dalam perkembangannya, anak terlihat menyimpang maka sebagai pendidik dan orang tua sewajarnya untuk menegur. Jika teguran yang diberikan tidak diindahkan dan anak mengulangi kembali perbuatannya maka sewajarnya diberlakukan sikap apatis pada anak tersebut.

Dalam sebuah riwayat dikatakan: Kerabat Ibnu Mughaffal yang belum baligh bermain lempar batu. Kemudian ia melarang dan berkata, “Sesungguhnya Rasulullah SAW telah melarang bermain lempar batu dan Beliau bersabda: ‘Sesungguhnya lempar batu tidak akan dapat memburu buruan….’ Kemudian anak itu kembali bermain. Maka ia berkata: ‘Aku memberitahumu bahwa Rasulullah SAW telah melarangnya, namun engkau terus bermain lempar batu? Maka aku tidak akan mengajakmu berbicara selamanya’.”

Pendidikan Fisik Tanpa Melukai

Selanjutnya pendidikan dalam bentuk pemukulan dengan tanpa melukai. Pemukulan pun dilakukan bukan pada area anggota tubuh yang dapat merusak fungsi tubuh dan sistem saraf. Pendidikan dengan pemukulan ini diperkenankan jika cara-cara sebelumnya tidak menimbulkan efek jera bagi si anak.

Namun perlu diingat bahwa pendidikan seperti ini hanya boleh dilakukan bagi anak yang akan memasuki usia akil balig, di mana dia sudah mampu membedakan mana yang baik dan buruk. Adapun ranah pendidikan yang ditekankan di sini adalah yang berkaitan dengan kewajiban-kewajiban dirinya sebagai seorang muslim dan kewajiban dirinya sebagai seorang individu.

Abu Dawud dan Hakim meriwayatkan dari Amr bin Syua’aib dai bapaknya dari kakeknya bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda:
“Perintahkan anak-anakmu untuk melaksanakan salat apabila mereka telah berusia tujuh tahun, dan apabila mereka telah berusia 10 tahun, maka pukulnya mereka (apabila tetap tidak mau melaksanakan sholat) dan pisahkan tempat tidur mereka.”

Pendidikan Melalui Pemboikotan

Lalu bagaimana dengan anak yang sudah diperingatkan untuk melaksanakan kewajibannya kepada Allah SWT sementara ia masih enggan mengerjakannya? Maka cara mendidiknya yaitu dengan pemboikotan. Tahapan pendidikan pemboikotan dilakukan apabila anak bersikap menyimpang, tapi masih berada dalam iman dan Islam.

“Al Bukhari meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW telah melarang kaum muslimin untuk berbicara dengan orang-orang yang tidak ikut Perang Tabuk selama 50 hari/malam. Sampai akhirnya Allah menurunkan wahyu (Alquran) tentang penerimaan tobat mereka.”

Pendidikan Melalui Pengasingan

Lalu bagaimana dengan sikap anak yang secara terang-terangan menentang guru dan orangtuanya, bahkan ia sampai murtad atau keluar dari agama Islam? Maka mengasingkan atau mengusirnya adalah termasuk salah satu tuntunan iman yang paling utama.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al Mujadalah Ayat 22: “Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu adalah bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, ataupun keluarga mereka.”

Berdasarkan dalil tersebut jelas bahwa jika didapati seorang anak yang menentang Allah SWT dan Rasulullah SAW maka dapat dibenarkan jika orangtua mengasingkan atau mengusir anaknya yang menentang tersebut dari rumahnya.

Jika seorang anak telah menentang Allah SWT dan Rasulullah SAW maka tidak ada satu pun yang dapat menyelamatkannya, tidak pula dengan guru dan orangtuanya.

Wallahu a’lam bishawab.

Dapatkan Berita terbaru dari kami via Telegram

Komentar