oleh

5 Hadis Sahih dan 4 Hadis Daif Mengenai Wabah Penyakit Covid-19

PortalMadura.com – Virus corona (Covid-19) telah menjadi wabah penyakit yang meluas ke seluruh dunia. Virus ini telah meresahkan banyak warga setempat khususnya di bagian Indonesia yang mayoritas orang muslim.

Para ahli agama dan ulama sangat berhati-hati dalam berfatwa. Beliau hanya menggunakan dalil-dalil yang otoritatif dalam membimbing ummat. Seperti menggunakan hadis-hadis yang shahih dan meninggalkan hadis daif dalam berhujah.

Adapun hadis-hadis sahih yang bisa dijadikan sebagai hujah dalam membimbing umat untuk menghadapi wabah penyakit, melansir dari laman republika.co.id, antara lain sebagai berikut:

Hadis Sahih 1

Hadis Sahih di Riwayatkan oleh Bukhari dan Muslim:

Rasulullah bersabda: “Ta’un (wabah penyakit menular) adalah suatu peringatan dari Allah SWT untuk menguji hamba-hamba-Nya dari kalangan manusia. Maka apabila kamu mendengar penyakit itu berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu masuk ke negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, jangan pula kamu lari dari padanya” (HR Bukhari dan Muslim dari Usamah bin Zaid).

Hadit Sahih 2

Hadis Sahih di Riwayatkan oleh Bukhari dan Muslim:

Rasulullah bersabda: “Janganlah yang sakit dicampur baurkan dengan yang sehat” (HR Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).

Hadis Sahih 3

Hadis Sahih di Riwayatkan oleh Bukhari dan Muslim:

Rasulullah bersabda: “Tidak boleh berbuat mudarat dan hal yang menimbulkan madarat” (HR Ibnu Majah dan Ahmad ibnu Hanbal dari Abdullah ibnu ‘Abbas).

Hadis Sahih 4

Hadis Sahih Riwayat Bukhari dan Muslim tentang Anjuran Salat di rumah ketika hujan pada siang hari Jumat:

Dari Abdullah bin Abbas dia mengatakan kepada muadzinnya ketika turun hujan (pada siang hari Jum’at), jika engkau telah mengucapkan “Asyhadu an laa ilaaha illallaah, asyhadu anna Muhammadan Rasulullah, ” maka janganlah kamu mengucapkan “Hayya alash shalaah, ” namun ucapkanlah shalluu fii buyuutikum (Shalatlah kalian di persinggahan kalian).” Abdullah bin Abbas berkata; “Ternyata orang-orang sepertinya tidak menyetujui hal ini, lalu ia berkata; “Apakah kalian merasa heran terhadap ini kesemua? Padahal yang demikian pernah dilakukan oleh orang yang lebih baik dariku (maksudnya Rasulullah saw). Shalat jum’at memang wajib, namun aku tidak suka jika harus membuat kalian keluar sehingga kalian berjalan di lumpur dan combera” (HR. Bukhori Muslim dari Abdullah ibn Abbas).

Hadis Sahih 5

Hadist panjang riwayat Bukhari Muslim yang artinya:

Pada suatu ketika ‘Umar bin Khaththab pergi ke Syam. Setelah sampai di Saragh, pimpinan tentaranya di Syam datang menyambutnya. Antara lain terdapat Abu “Ubaidah bin Jarrah dan para sahabat yang lain. Mereka mengabarkan kepada ‘Umar bahwa wabah penyakit sedang berjangkit di Syam. Umar kemudian bermusyawarah dengan para tokoh Muhajirin, Anshor dan pemimpin Quraish.

Lalu ‘Umar menyerukan kepada rombongannya; ‘Besok pagi-pagi aku akan kembali pulang. Karena itu bersiap-siaplah kalian! ‘ Abu ‘Ubaidah bin Jarrah bertanya; ‘Apakah kita hendak lari dari takdir Allah?.‘ Jawab ‘Umar; ‘Mengapa kamu bertanya demikian hai Abu ‘Ubaidah?. Agaknya ‘Umar tidak mau berdebat dengannya. Dia menjawab; Ya, kita lari dari takdir Allah kepada takdir Allah. Bagaimana pendapatmu, seandainya engkau mempunyai seekor unta, lalu engkau turun ke lembah yang mempunyai dua sisi. Yang satu subur dan yang lain tandus. Bukanlah jika engkau menggembalakannya di tempat yang subur, engkau menggembala dengan takdir Allah juga, dan jika engkau menggembala di tempat tandus engkau menggembala dengan takdir Allah? ‘

Tiba-tiba datang ‘Abdurrahman bin ‘Auf yang sejak tadi belum hadir karena suatu urusan. Lalu dia berkata; ‘Aku mengerti masalah ini. Aku mendengar Rasulullah bersabda: ‘Apabila kamu mendengar wabah berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu datangi negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, maka janganlah keluar dari negeri itu karena hendak melarikan diri.’ Ibnu ‘Abbas berkata; ‘Umar bin Khaththab lalu mengucapkan puji syukur kepada Allah, setelah itu dia pergi.’ (HR Bukhari dan Muslim).

Adapun di antara hadis hadis da’if yang sering digunakan adalah:

Hadis Da’if 1

Dari Anas bin Malik, Rasulullah?. Bersabda:

“Sesungguhnya apabila Allah menurunkan penyakit dari langit kepada penduduk bumi maka Allah menjauhkan penyakit itu dari orang-orang yang meramaikan masjid”.

Hadits riwayat Ibnu Asakir (juz 17 hlm 11) dan Ibnu Adi (juz 3 hlm 232).

Hadis ini dinyatakan sebagai hadis daif oleh Nashir al-Din al-Albani dalam kitab Silsilat al-hadis al-Do’ifat wa al-Maudhu’at, juz IV, hal. 222, hadis no. 1851.

Hadis Da’if 2

Dari Anas bin Malik, Rasulullah?. Bersabda:

“Apabila Allah menghendaki penyakit pada suatu kaum, maka Allah melihat ahli masjid, lalu menjauhkan penyakit itu dari mereka”.

Riwayat Ibnu Adi (juz 3 hlm 233); al-Dailami (al-Ghumari, al-Mudawi juz 1 hlm 292 [220]); Abu Nu’aim dalam Akhbar Ashbihan (juz 1 hlm 159); dan al-Daraquthni dalam al-Afrad (Tafsir Ibn Katsir juz 2 hlm 341).

Hadis ini adalah hadis da’if. (lihat Nashiruddin al-Albani, Sahih wa Da’if al-Jami’ al-Shoghir, juz IV, hal. 380, hadis no. 1358).

Hadis Da’if 3

Sahabat Anas bin Malik berkata: “Aku mendengar Rasulullah?. Bersabda:

Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku bermaksud menurunkan azab kepada penduduk bumi, maka apabila Aku melihat orang-orang yang meramaikan rumah-rumah-Ku, yang saling mencintai karena Aku, dan orang-orang yang memohon ampunan pada waktu sahur, maka Aku jauhkan azab itu dari mereka”.

Riwayat al-Baihaqi, Syu’ab al-Iman [2946].

Hadis ini do’if Jiddan. (Lihat Nashiruddin al-Albani, Kitab Sahih wa Da’if al-Jami’ al-Shaghir, juz 9, hal. 121, hadis no. 3674).

Baca Juga: 3 Akhlak Rasulullah Terhadap Asisten Rumah Tangga yang Patut Ditiru

Hadis Da’if 4

Sahabat Anas bin Malik berkata, Rasulullah?. Bersabda:

“Apabila penyakit diturunkan dari langit, maka dijauhkan dari orang-orang yang meramaikan masjid”.

Riwayat al-Baihaqi, Syu’ab al-Iman [2947]; dan Ibnu Adi (juz 3 hlm 232). Al-Baihaqi berkata: “Beberapa jalur dari Anas bin Malik dalam arti yang sama, apabila digabung, maka memberikan kekuatan (untuk diamalkan)”.

Hadis ini Da’if. (Lihat Nashiruddin al-Albani, al-Silsilah al-Da’ifah, juz IV, hal. 350, hadis no. 1851).

Itulah hadis yang bisa Anda jadi rujukan, semoga bermanfaat. Waallahu A’lam.

Rewriter : Azizah
Sumber : Republika.co.id
Tirto.ID
Loading...

Komentar