oleh

5 Langkah Supaya Terhindar dari Bahaya Lisan Menurut Imam Ghazali

PortalMadura.Com – Islam menganjurkan umat Muslim untuk selalu menjaga lidahnya, dan lebih baik diam daripada berbicara tidak tentu arah, apalagi berkata keburukan. Sebab, akibat lidah yang tidak bertulang tersebut terkadang bisa membuat hati pendengarnya tersakiti.

Sebagaimana yang sering Anda dengar, bahwa goresan yang disebabkan lidah sering kali lebih membekas dibandingkan sayatan benda tajam sekalipun. Untuk itu, Imam Al Ghazali, dalam magnum opusnya ‘Ihya Ulumiddin‘ memaparkan sejumlah kiat agar tidak mudah terpeleset lidah, seperti dilansir dari laman Republika.co.id, Kamis (19/3/2020).

Perlu diketahui, pada hakikatnya langkah-langkah itu merupakan upaya pengendalian diri untuk mengatur dan mengelola pergerakan lidah dengan baik. Lantas, apa saja cara-caranya?.

Baca Juga: 5 Adab Orang Tua pada Anaknya Menurut Imam Al-Ghazali

Berikut ini uraiannya:

Langkah pertama, ungkap sosok kelahiran Thus 1058 M/150 H itu, jauhi perbincangan yang tidak penting atau sekadar hura-hura. Di antara kesalahan lidah, kala membicarakan hal-hal yang tidak perlu. Rasulullah pernah menegaskan, sebaik-baik keislaman seorang ialah saat ia meninggalkan perkara yang tidak perlu. Termasuk, berbicara yang tidak membawa manfaat.

Suatu ketika, seperti dinukilkan Anas bin Malik r.a, Rasulullah pernah mengomentari seorang sahabat yang terdiam kala sang ibu mengusap wajahnya. Sahabat itu, mengikatkan ke perut untuk menahan rasa lapar. Peristiwa itu terjadi ketika Perang Uhud. “Tidakkah engkau ketahui mengapa ia terdiam saja?. Mungkin, ia tidak ingin berbicara yang tidak perlu atau ia menolak dari hal-hal yang membahayakan dirinya”.

Langkah kedua, menurut tokoh yang bermazhab Syafi’i ini, jaga diri dari boros berbicara dan membicarakan apa pun dengan cara yang berlebihan pula. Biasanya, ini dilakukan untuk menarik perhatian seseorang. Padahal, topiknya sangat tidak penting dan tidak ada kaitannya dengan objek yang diajak bicara.

Tuntunan untuk tidak boros pembicaraan tersebut sesuai dengan seruan Alquran dalam surah an-Nisaa ayat ke-114. “Tidak ada kebaikan pada banyaknya suatu obrolan kecuali dalam perbincangan itu ada perintah untuk bersedekah, berbuat baik, atau perintah untuk mendamaikan sesama manusia”.

Langkah ketiga, menurut figur yang pernah menjadi kanselir di Madrasah Nizhamiyah Baghdad itu, jangan sampai lidah terpancing dengan obrolan-obrolan yang berkaitan dengan perkara batil. Kerap berbicara batil bisa mengantarkan seseorang ke api neraka. Penegasan ini seperti yang diabadikan dalam Alquran.

Surah Al Muddassir ayat 42-45 mengisahkan tentang perbincangan antara ahli surga dan penghuni neraka. Yaitu: “Ketika penghuni neraka ditanya, apa pasal mereka masuk siksaan tersebut? “Dahulu kami tidak pernah melakukan salat, tidak memberi makan kepada orang miskin, dan kami biasa mengobrolkan hal-hal yang batil dengan orang-orang yang membicarakannya”.

Langkah keempat, jangan berdebat berlebihan. Debat memang berguna bagi murid yang sedang belajar. Tetapi, bagi seorang alim, debat adalah sesuatu yang harus dihindari.

Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang meninggalkan perdebatan, walaupun perdebatan itu benar, Tuhan akan berikan kepadanya tempat paling tinggi di surga”.

Langkah kelima, tokoh yang juga dikenal lewat karyanya Tahafut al-Falasifah itu menambahkan, jauhkan sebisa mungkin perkataan yang di dalamnya terkandung unsur permusuhan, kedengkian, menyakitkan, serta menjatuhkan harga diri orang lain.

Menghargai seseorang lewat perkataan yang sopan dan santun akan sangat berdampak bagi kelanggengan silaturahmi. Bahkan, berulang kali Rasulullah pernah mencontohkan agar tidak menghujat para sahabatnya. “Janganlah kau kecam sahabat-sahabatku”. Wallahu A’lam.

Rewriter : Salimah
Sumber : republika.co.id
Tirto.ID
Loading...

Komentar