Selamatkan Identitas Budaya, Pemkab Sumenep Telusuri dan Dokumentasikan Sejarah Asal-Usul Nama Desa

Avatar of PortalMadura.com
Sumenep: Gerbang Wisata Religi Madura yang Memikat, Sarat Sejarah dan Spiritual
Sumenep: Gerbang Wisata Religi Madura yang Memikat, Sarat Sejarah dan Spiritual

PORTALMADURA.COM, Sumenep – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep mengambil langkah konkret untuk menyelamatkan kekayaan sejarah lokal yang mulai mengikis. Melalui kajian toponimi—ilmu yang mempelajari asal-usul, arti, dan tata nama tempat—pemerintah daerah kini gencar mendokumentasikan sejarah penamaan seluruh desa di wilayah berlambang Kuda Terbang ini.

Langkah strategis ini dinilai krusial karena setiap nama desa di Sumenep bukan sekadar penanda geografis di peta, melainkan menyimpan rekam jejak peristiwa, nilai adat, hingga kondisi sosial-lingkungan pada masa lampau. Untuk tahap awal, Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Sumenep memfokuskan penelusuran pada kawasan daratan sebelum menyisir wilayah kepulauan.

Upaya penyelamatan sejarah ini diakui menghadapi tantangan besar. Saat ini, mayoritas informasi mengenai asal-usul nama desa hanya tersisa dalam bentuk cerita lisan (tutur) yang belum dibukukan secara sistematis, sehingga rentan hilang seiring bergantinya generasi.

Guna meminimalkan bias sejarah, Diskominfo Sumenep mengombinasikan berbagai sumber rujukan resmi. Tim pengumpul data membandingkan kesaksian para tokoh masyarakat, budayawan, pemerhati sejarah, dengan dokumen-dokumen kuno serta literatur lama yang masih tersisa.

Tiga Faktor Lahirnya Nama Desa di Sumenep

Berdasarkan hasil penelusuran awal yang dihimpun oleh tim gabungan pada Kamis (9/7/2026), tim peneliti menemukan tiga faktor utama yang melatarbelakangi penamaan sebuah desa di Sumenep:

  • Peristiwa Sejarah: Kejadian penting atau momentum besar yang pernah terjadi di wilayah tersebut pada masa kerajaan maupun kolonial.
  • Legenda dan Cerita Rakyat: Kisah tutur yang berkembang secara turun-temurun dan melekat erat dalam ingatan kolektif masyarakat lokal.
  • Fenomena Alam: Ciri khas geografis, vegetasi dominan, atau kondisi alam yang mencolok di kawasan tersebut saat pertama kali dihuni.

Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojudo, menegaskan bahwa proyek penyelamatan budaya ini tidak akan berhasil maksimal tanpa adanya sinergi dari akar rumput. Pelestarian warisan leluhur adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya tugas birokrat atau akademisi.

“Menjaga ingatan kolektif tentang dari mana kita berasal adalah pondasi jati diri bangsa. Oleh karena itu, keterlibatan aktif masyarakat luas sangat penting agar sejarah dan budaya Madura Timur ini tetap terjaga murni hingga ke generasi anak cucu kita,” ungkap Achmad Fauzi.

Nantinya, Media Center Diskominfo Sumenep akan mempublikasikan hasil penelusuran toponimi ini secara berkala kepada publik melalui portalmadura.com. Pemerintah juga membuka ruang bagi masyarakat yang memiliki bukti autentik atau catatan sejarah pendukung untuk ikut menyempurnakan dokumentasi ini di masa mendatang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses