Baru Kali Ini Takmir Masjid Jamik Tolak Ditempati Kegiatan Hari Jadi Sumenep, Alasannya Bikin Merinding

Avatar of PortalMadura.com
Penulis: Elok AndrianiEditor: Hartono

PortalMadura.Com, Pengurus Keraton Sumenep, Madura, Jawa Timur, dengan tegas menolak permohonan untuk ditempati rangkaian ke-753 tahun 2022.

Penolakan yang pertama kali sepanjang sejarah Sumenep tersebut disampaikan secara resmi melalui surat balasan atas permohonan Pemerintah Daerah Sumenep yang ditujukan pada Dinas Kebudayaan, Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar), tertanggal 29 September 2022.

“Kami bukan menolak Hari Jadi Sumenep. Ini soal etika antara takmir dan pemerintah daerah. Kita belum ada apa-apa, belum rapat dan koordinasi sebelumnya, Disbudporapar sudah menentukan jadwal,” kata Ketua Takmir , Hosen Satriawan, Kamis (6/10/2022).

Tahun-tahun sebelumnya, kata dia, tidak pernah terjadi penolakan untuk ditempati kegiatan Hari Jadi Sumenep, meski diakui pihak penyelenggara tidak pernah bertanggungjawab atas kebersihan dan kehilangan yang menimpa masjid.

“Pada zamannya Bupati Busyro, melakukan tabayyun dulu. Ada musyawarah dan rapat-rapat. Koordinasi itu satu bulan sebelumnya dan punya etika. Bagi saya, etika itu prinsip, apalagi orang Madura, khususnya Sumenep,” ujarnya.

Bahkan, pihaknya masih ingat dengan peristiwa pencurian kotak amal yang dialami Masjid Jamik Sumenep. Kala itu, kata dia, Bupati Busyro tolong agar pintu gerbang masjid dibuka karena alasan kemanusian dan kasian pada penonton musik tongtong.

“Ya, saya buka [pintu gerbang]. Yang terjadi kotak amal hilang,” terangnya.

Hosen Satriawan yang juga mengaku Ketua Tim Pemenangan Duet Achmad Fauzi-Dewi Khalifah mengaku sangat kecewa dengan sikap kepemimpinan pejabat hari ini. “Dari awal sampai hari ini, gak ada komunikasi [dari Pemda]. Saya dibohongi, dizalimi,” tandasnya.

Baginya, keputusan menolak untuk dijadikan tempat dari rangkaian kegiatan Hari Jadi Sumenep ke-753 adalah keputusan final. “Kalau ludah sudah jatuh, tidak akan dijilat lagi. Apapun yang terjadi, saya siap. Etika itu soal prinsip bagi saya,” katanya kembali menegaskan.

Kepala Dinas Kebudayaan, Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Sumenep Moh Iksan yang sudah tidak memiliki ruang untuk melakukan negosiasi akhirnya memutuskan, bahwa kegiatan rangkaian Hari Jadi Sumenep akan ditempatkan di depan Mall Pelayanan Publik (MPP) Jl. dr. Soetomo ke arah timur.

“Prosesi Arya Wiraraja dan kegiatan lainnya, kita tempatkan di depan MPP. Dan untuk musik tontong, start di Jl. Urip Sumoharjo dan finish depan Rumdis Bupati,” terangnya.

Disinggung soal penolakan dari takmir Masjid Jamik Sumenep, Moh Iksan menegaskan, yang dilibatkan dalam rapat-rapat untuk rangkaian kegiatan Hari Jadi Sumenep ke-753 adalah komponen masyarakat yang terlibat langsung dan pelaksana.

“Pelaksana atau panitia dan elemen lainnya kita sering rapat. Kalau takmir masjid Jamik itu bukan pelaksana, hanya tempat. Itupun bukan masjid yang mau dipakai, tapi depan masjid,” katanya.

Keputusan awal soal penempatan rangkaian kegiatan Hari Jadi Sumenep ke-753 di depan Masjid Jamik, kata dia, mengingat masjid adalah ikon Sumenep. “View-nya bagus dan karena ikon Sumenep,” pungkasnya.(*)

Dapatkan Barang Elektronik Dengn Harga Termurah Cek >> Rekomendasi Elektronik.
Jangan Lupa Ikuti kami di Google Berita.

Respon (1)

  1. Sy sangat setuju penolakan tempat depan masjid Jamik krn sy liat lebih byk modhoratnya dibandingkan maslahatnya sdh kondisi seperti ini bencana bertubi tubi kenapa krn maksiat sdh dianggap biasa justru jadi musibah (ingat para peminpin area masjid sbg sarana ejukasi budaya ibadah bukan hura hura )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.