oleh

Eksistensi Sastra di Era Milenial

Oleh: Nurul Fitriani*

Berbicara mengenai dunia sastra Indonesia, tentu menjadi hal yang tak asing untuk kita dengar. Perspektif orang-orang pada umumnya akan beranggapan bahwa sastra hanyalah berisi mengenai dunia khayalan. Senantiasa berpuitis melalui kata-katanya, dalam artian sastra hanya dipandang sebelah mata.

Mengapa demikian?. Ini dikarenakan pandangan orang awam hanya melihat bahwasanya “Sastra identik dengan puisi, cerpen, novel yang hanya bergelut dengan kata imajinatifnya” memang tak dapat dipungkiri dari karya itulah terdapat kekayaan dan keindahan sastra.

Berangkat dari pandangan masyarakat, sastra tidak hanya bergerak didalam sebuah tulisan, melainkan sebagai sarana hiburan, pelampiasan seorang pengarang melalui tulisan dengan melihat situasi kondisi sosial yang dianggap menarik dan perlu untuk dibahas.

Dalam sastra tidak perlu lagi terikat dengan struktur kepenulisan ilmiah, yang artinya menulislah dengan bebas, bebas kau putar-balikkan semudah memutarkan telapak tangan, namun dalam sastra perlu juga yang namanya penalaran perasaan yang menggambarkan berbagai sketsa kehidupan yang ada di sekitarnya.

Dalam sastra yang menjadi permasalahannya adalah sastra hanya dikenal sebelah mata, rendahnya ketertarikan generasi muda akan dunia sastra.

Hal ini dibuktikan dengan rendahnya generasi penerus bangsa yang menggeluti di bidang sastra, kemudian dilanjutkan dengan anak milenial saat ini lebih menyukai karya dan budaya dari negara lain, padahal dengan sastra Indonesia kita sebagai rakyat Indonesia juga mampu menciptakan karya yang kaya akan budaya dan tak kalah jauh indahnya dengan karya dari negeri lain.

Fungsi sastra Indonesia ialah menghibur dengan cara menyajikan keindahan, beragam makna kehidupan serta memberikan pemikiran secara luas mengenai dunia imajinasi.

Bagi sebagian khalayak orang sastra menjadi jembatan guna menyampaikan pesan mengenai kebenaran ataupun keburukan pesan yang akan disampaikan. Disisi lain, siapa sangka sastra juga memiliki peran penting yaitu sebagai sarana kritik sosial.

Bagaimana tidak?. Seringkali kita temukan sekelompok demonstran menggunakan puisi dalam aksinya, selain itu juga menggunakan teks orasi yang mengandung nilai sastra, kemudian dapat dijumpai juga di setiap tempat kopi yang sekarang menjadi ajang tempat nongkrong bagi para mahasiswa khususnya di Malang.

Seringkali terdapat sekelompok mahasiswa yang berperan membaca puisi dan personel lainnya lagi berperan menyanyikan lagu sesuai dengan pesan dari puisi yang dibacakan tadi. Itulah yang dinamakan musikalisasi puisi, dan inilah kekayaan dunia sastra.

Selain itu, mungkin sebagian dari para pembaca yang sudah pernah mendengar nama Soe Hok Gie yang merupakan aktivis angkatan 66 bukan?. Lihat saja cara dia menyajikan, menuangkan perasaan-perasaan dan sudut pandangnya mengenai kekecewaan terhadap pemerintahan Soekarno pada zaman itu. Begitu menyentuh dan mendobrak hati!!! Selain itu juga puisi-puisi romantis yang telah diciptakannya membuat pembaca pun turut hanyut dalam sajaknya.

Selain dari itu, akhir-akhir ini kita juga dihanyutkan dan didobrak hatinya mengenai perjuangan, pengabdian seseorang terhadap Indonesia, kesetiannya sebagai seorang suami kepada istri yang teramat dalam, siapa lagi kalau bukan Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie atau sering dipanggil dengan B. J. Habibie (Almarhum) yang merupakan Presiden Republik Indonesia yang ketiga.

Kenangan semasa hidupnya sangat memotivasi para rakyat Indonesia, berawal dari membuat pesawat terbang untuk Indonesia kemudian menjadi presiden RI merupakan bentuk pengabdiannya terhadap Indonesia. Cerita sepanjang hidupnya ini, beliau tuangkan dalam novel hasil ciptaannya sendiri yang berjudul “Habibie & Ainun”.

Kemudian diangkat menjadi film layar lebar yang disutradarai oleh Hanung Bramayanto. Pesan yang disampaikan dalam film ini bagaimana kita sebagai rakyat Indonesia harus bangga terhadap negara sendiri dan mampu berkarya lebih unggul dari negara lain, kemudian kesetiaan dalam sebuah keluarga perlu kita terapkan guna terciptanya keluarga yang harmonis. Karya ini tak lain termasuk dari hasil cipta dunia sastra yang disebut dengan ekranisasi yaitu mengalihkan karya seni dari wahana satu ke wahana lain. Dalam artian berangkat dari novel ke dalam film.

Siapa sangka? tanpa kita sedari, ternyata sastra begitu demikian dekat dengan kehidupan, semua aspek kehidupan bisa menjadi lebih bermakna dan indah jika disandingkan dengan sastra. Akan tetapi, bukan berarti harus meninggalkan tradisi ilmiah yang sudah ada, melainkan ada saatnya dimana kita menggunakan sastra dan ilmiah pada tempatnya.

Maka dari itu, jangan lagi pandang sastra hanya dengan sebelah mata!!!. Oleh karena itu, mari berkarya melalui sastra.(**)

*Penulis: Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Universitas Muhammadiyah Malang

“Redaksi PortalMadura.Com menerima tulisan opini, artikel dan tulisan lainnya yang sifatnya memberi sumbangan pemikiran untuk kemajuan negeri ini. Dan semua isi tulisan diluar tanggung jawab Redaksi PortalMadura.Com.”

.
.
Tirto.ID
Loading...

Komentar