Sumenep, PortalMadura.com – Sejumlah harga komoditas pangan di pasar tradisional Kabupaten Sumenep, madura, Jawa Timur, mengalami pergerakan yang fluktuatif pada pekan ini. Penurunan paling signifikan terjadi pada komoditas bawang merah yang harganya merosot drastis akibat melimpahnya pasokan lokal.
Kepala Bidang Perdagangan, Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sumenep, Idham Halil menjelaskan bahwa penurunan harga bawang merah ini dipicu oleh masuknya masa panen raya di wilayah Sumenep.
“Saat ini bawang merah lokal Sumenep sudah mulai dipanen. Karena stok melimpah, kita tidak perlu lagi mendatangkan pasokan dari Probolinggo atau daerah luar lainnya. Kondisi inilah yang membuat harga di pasar merosot,” terang Idham Halil, Selasa (7/7/2026).
Ia memaparkan, harga bawang merah yang sebelumnya menyentuh angka Rp 45.000 per kilogram, kini anjlok menjadi Rp 36.000 per kilogram. Kontras dengan bawang merah, komoditas cabai rawit justru kembali menunjukkan tren kenaikan harga. Setelah sempat turun ke level Rp 35.000, pekan ini harga cabai rawit meroket lagi menjadi Rp 40.000 per kilogram.
“Karakteristik cabai memang sangat fluktuatif, bahkan harganya bisa berubah setiap hari karena sangat bergantung pada jumlah pasokan yang masuk ke pasar,” tambahnya.
Di sisi lain, harga kebutuhan pokok lainnya terpantau relatif stabil. Beras kualitas premium dijual dengan harga Rp 15.400 per kilogram, sedangkan untuk beras kualitas medium atau beras lokal berada di angka Rp 13.200 per kilogram.
Untuk komoditas minyak goreng, Minyakita dipatok seharga Rp 15.700 per liter, minyak goreng curah Rp 21.000 per kilogram, dan minyak goreng kemasan ukuran 2 liter dijual rata-rata Rp 44.000. Sementara itu, komoditas gula pasir tetap bertahan di harga stabil yakni Rp 18.000 per kilogram.
Guna memastikan stabilitas harga dan ketersediaan bahan pokok, Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sumenep terus melakukan monitoring secara berkala di Pasar Anom Baru selaku pasar induk, serta Pasar Bangkal sebagai titik pembanding. (portalmadura.com)





