oleh

Haruskah Pembelajaran di Rumah Sama Dengan di Sekolah?

Oleh : Siti Nurul Hidayah, S.Si*

Sejak Indonesia pertama kali mengonfirmasi adanya kasus Covid-19 pada 2 Maret 200, Presiden Jokowi mengumumkan ada dua orang Indonesia yang positif terjangkit virus Corona yakni perempuan berusia 31 tahun dan ibu berusia 64 tahun. (detik/26 April 2020).

iklan pilbup

Maka sejak saat itu dan beberapa hari kemudian berbagai kebijakan pemerintah yang bertujuan menghindari penularan wabah covid-19 ini dilakukan. Termasuk dalam dunia pendidikan.

Adanya penerapan social distancing (jaga jarak) dan menghindari kerumunan sebagai upaya mencegah virus corona, sehingga sejak tanggal 16 Maret 2020 pemerintah memberlakukan kebijakan kegiatan sekolah di beberapa daerah diliburkan. Mulai dari jenjang TK, SD, SMP hingga SMA.

Dan sejak saat itu pemerintah menganjurkan sekolah agar mengondisikan siswa untuk belajar di rumah pada masa pandemi. Hal ini juga telah diberlakukan di Jawa Timur seperti yang diungkapkan Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa.

“Untuk bidang pendidikan, pelaksanaan kegiatan belajar mengajar pada SMA, SMK, Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus (PK-LK) di Jatim dilakukan di rumah peserta didik masing-masing. Nantinya pihak sekolah dengan memberikan tugas yang akan dinilai pada saat masuk sekolah. Kami ingin para orang tua melakukan monitoring kepada anak-anaknya”. (jawapos.com/16 Maret 2020).

Pada saat siswa diliburkan selama 14 hari pertama, banyak dari mereka dibekali sejumlah tugas yang disampaikan melalui pesan eletronik, yang harus dikerjakan selama belajar di rumah. Namun praktek di lapangan belajar di rumah ternyata membuat banyak orang tua merasa kewalahan dan stres untuk menjadi pengawas putra-putrinya belajar di rumah.

Di samping itu, tidak semua orang tua bisa menyediakan fasilitas yang memadai untuk belajar di rumah seperti handphone, laptop/ komputer. Apalagi masih ada di beberapa daerah yang terkendala jaringan internet dan listrik. Sehingga hal ini makin menambah polemik yang dirasakan dalam keluarga di masyarakat.

Menyikapi kebijakan tentang pembelajaran di rumah bagi siswa di masa pandemi ini, memang menjadi suatu hal yang dilematis. Di satu sisi target kompetensi yang ingin dicapai dalam kurikulum harus dituntaskan, namun di sisi lain kondisi belajar di rumah tidak sama seperti di sekolah.

Bahkan tidak sedikit para guru yang gagap dalam mengelola pembelajaran secara daring. Padahal pembelajaran daring seharusnya sudah menjadi kompetensi yang dimiliki guru sebelum masa pandemi Covid-19.

Maka harus ada upaya dari pemangku kebijakan dalam menetapkan arah atau target pendidikan pada situasi wabah dengan sesegera mungkin agar bisa menjadi acuan sekolah dalam mengelola kurikulum khususnya para guru sebagai ujung tombak pelaksana Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di lapangan.

Berbicara tentang pembelajaran di rumah sesungguhnya tidak bisa disamakan persis seperti belajar di sekolah. Baik dalam hal alokasi waktu, maupun praktek bentuk pembelajarannya. Karena ada lembaga pendidikan (sekolah) yang menuntut siswanya mengikuti KBM dengan sistem jarak jauh ini selama jenjang waktu yang ditentukan seperti jam pelajaran tatap muka di sekolah, yaitu dari pukul 07.00 -11.00 WIB.

Bahkan ada sekolah yang menerapkan bagi para siswa diharuskan memakai seragam sekolah selama jam pembelajaran berlangsung meskipun saat berada di rumah.

Hal yang demikian sesungguhnya terkesan memaksakan agar pembelajaran di rumah harus sama seperti pembelajaran saat di sekolah. Yang semestinya pembelajaran di rumah bisa disesuaikan dengan kondisi masing-masing anak/ siswa saat di rumah.

Esensi pembelajaran di rumah seharusnya diarahkan untuk penanaman nilai-nilai karaktek. Termasuk penanaman akhlak, penguatan akidah yang melahirkan ketaatan pada agama. Maka hal ini perlu peran serta dari para orang tua sebagai pembimbing di rumahnya.

Maka mengenai kompetensi kurikulum yang harus dicapai sudah semestinya diarahkan pada esensi pembelajaran di rumah tersebut.

Hal yang utama perlu dilakukan oleh pemangku kebijakan mengingat tahun ajaran baru sudah di depan mata. Pemerintah melalui Kemendikbud perlu menegaskan tujuan pendidikan baku yang harus diemban seluruh pemangku pendidikan baik negara, siswa, guru, tenaga kependidikan, hingga oleh orang tua siswa, terutama di masa pandemi.

Sebab, pembelajaran di rumah ujung tombaknya adalah orang tua. Maka kesadaran yang dimiliki orang tua juga sangat berpengaruh, mereka akan mendidik sesuai target dan tujuan pembelajaran. Sehingga orang tua bisa melakukan bimbingan kepada anaknya tentang penanaman karakter dan life skill pada anak di rumah. Sedangkan aspek sains dan teknologi yang mutlak butuh tatap muka di sekolah bisa ditunda hingga pandemi berakhir.

Selanjutnya, negara perlu mengatasi penyediaan perangkat teknologi informasi dan komunikasi dan sekaligus mengedukasinya secara singkat. Sehingga keterbatasan guru, siswa dan orang tua untuk melakukan pembelajaran daring bisa diminimalisir. Baik karena keterbatasan ekonomi untuk memiliki alat (media) dan akses internet, maupun keterbatasan ilmu.

Kemudian dalam kondisi ekonomi yang makin sulit ini, kehidupan ekonomi rakyat yang membutuhkan bantuan akibat lockdown seharusnya bisa ditopang oleh negara. Orang tua tak perlu bekerja di luar. Mereka bisa optimal membantu proses belajar anak di rumah dengan sebaik-baiknya. Sehingga esensi pembelajaran di rumah bisa tercapai.

Dengan demikian jika negara mampu memberikan pelayanan pendidikan optimal dan baik kepada rakyat khususnya saat masa pandemi ini. Maka belajar di rumah tidak akan mengalami kendala. Baik bagi orang tua, siswa ataupun para guru. Sehingga kualitas pendidikan di Indonesia tetap terjaga.(**)

* (Guru SMA Sampang)

“Redaksi PortalMadura.Com menerima tulisan opini, artikel dan tulisan lainnya yang sifatnya memberi sumbangan pemikiran untuk kemajuan negeri ini. Dan semua isi tulisan di luar tanggung jawab Redaksi PortalMadura.Com.”

.
.
Tirto.ID
Loading...

Komentar