oleh

Idul Fitri dan Optimisme Bangsa

Oleh : Nur Khalis*

Tahun ini mengalami hal yang sama dengan tahun kemarin, merayakan hari raya Idul Fitri dengan keterbatasan di tengah pandemi Covid-19 yang tak kunjung selesai. Karantina rohani sebagai sarana penguatan diri selama 30 hari dengan ibadah bulan puasa menahan rasa lapar dan dahaga bahkan karena masih dalam suasana pandemi umat Islam harus juga menahan diri dari banyak beraktifitas dan beribadah diluar rumah semua terjadi dalam keterbatasan.

Kini Idul Fitri telah tiba sebagai puncak dari segala ibadah di bulan puasa yang seyogyanya sesuai dengan konteks tradisi masyarakat Indonesia dirayakan dengan kemegahan dan kemeriahan. Namun, tradisi masyarakat ini akan kembali disterilkan dari eoforia dan tradisi kumpul-kumpul secara fisik serta dari tradisi mudik sesuai anjuran pemerintah.

Kembali ke Jati Diri yang Fitrah

Keluar dari konteks tradisi masyarakat Indonesia, sejatinya Idul Fitri, bukan identik dengan baju baru, pulang kampung, saling berjabat tangan, tapi esensi dari Idul Fitri kembalinya jati diri menjadi pribadi-pribadi yang bertakwa. Dari penempaan diri selama bulan Ramadan dengan riyadah menahan diri dari perbuatan tercela yang merugikan orang lain, menghindarkan diri dari iri hati dan dengki, menghentikan diri dari saling caci serta berlomba-lomba dalam kebaikan merupakan pembinaan mental-mental yang tangguh menuju insan paripurna.

Proses rekonsiliasi diri ini akan membentuk kesadaran kolektif akan pentingnya ketulusan, keikhlasan dan keteguhan dalam berprinsip serta sikap memaafkan orang lain. Oleh karena itu sesungguhnya pesan Idul Fitri tidak hanya seputar ritual semata tapi ada muatan penguatan spiritual yang terjawantahkan dalam bentuk amal saleh. Potret kedirian dan kembali ke jati diri yang sesungguhnya adalah ruh Idul Fitri sebagai hari penyucian diri (tazkiyatun nufus) dari sikap keangkuhan dan keakuan, serta adanya ghirah ( semangat ) dan motivasi untuk meningkatkan kualitas kedirian dari waktu ke waktu sejatinya potret kemenangan yang hakiki.

Kemenangan melawan hawa nafsu syaitoniyah dan kemampuan mengontrol diri dari perbuatan yang tercela dan mengubahnya dengan prilaku yang konstruktif, empatik dan produktif serta saling percaya yang terjalin dalam prilaku keseharian adalah mudik suci sebenarnya yang juga dilakukan para salafus shalih penyampai risalah kenabian-kerasulan sekaligus sebagai khalifah fil ard.

Menyalakan Api Optimisme

Perubahan hidup di era disrupsi yang ditandai dengan era digital telah menerobos sekat-sekat geografis. Evolusi teknologi informasi dan komunikasi telah menghadirkan perubahan yang fundamental dalam berbagai aspek kehidupan termasuk perubahan cara pandang baru terhadap kehidupan.

Perubahan yang begitu cepat ini adalah tantangan baru bagi sebuah bangsa untuk melakukan adaptasi dan keharusan bertransformasi dengan kehidupan baru. Pandemi Covid-19 yang berseiring dengan perubahan ini menambah rentetan problematika yang masih belum menemukan titik temu yang presisi untuk jalan penyelesaiannya. Semua negara-negara di dunia berlomba-lomba keluar dari krisis yang mengancam segala aspek kehidupan.

Ketimpangan sosial, kemiskinan, benturan-benturan antar kelompok, antar agama bahkan ketegangan antar negara semakin menambah keresahan di tengah perubahan peta kekuatan dunia.

Idul Fitri sebagai momentum menghadirkan kembali spirit optimisme bangsa dan semangat nasionalisme, yaitu semangat memperjuangkan tanah air. Setiap generasi bangsa harus memiliki optimisme dalam menjalani kehidupan. Karena lemahnya harapan atau rasa optimis (menurut Musthofa Al-Gholayini pengarang kita Idhotun Nasyiin) adalah salah satu penyakit jiwa yang mempunyai dampak luas dan merupakan virus yang membahayakan keberlangsungan pembangunan dan kehidupan.

Dengan demikian sikap optimis yang ditopang kesadaran diri dalam bentuk ikhtiar yang sempurna akan mengantarkan kepada garis kehidupan yang dicita-citakan. Demikian juga situasi kebangsaan ini memerlukan sikap optimisme dari segenap generasi bangsa dalam menggerakkan kehidupan yang dinamis. Dinamis merupakan sikap penuh semangat dan energik sehingga cepat bergerak dan mudah menyesuaikan diri dengan keadaan.

Konsistensi dalam memperjuangkan harapan dan cita-cita yang diiringi ikhtiar dan doa adalah pendorong utama kemajuan dan tercapainya keberhasilan keluar dari problematika bangsa ini. Oleh karena itu Idul Fitri ini harus menjadi episentrum kekuatan kembalinya spirit optimisme bangsa. Resep-resep keadaban selama melakukan karantina ruhiyah nufusiyah selama bulan Ramadan harus menjadi stimulus dan bersemainya sikap optimis dan terpinggirnya sikap-sikap statis-pesimis yang diselimuti keraguan dan kebingungan.

Karena hidup yang disertai putus asa adalah sebuaah kematian. Hanya dengan jiwa-jiwa optimis sebagai sebuah keyakinan akan masa depan bangsa ini akan menjadi bahan bakar untuk menyalakan api semangat dalam membangun etos, memperbaiki kualitas diri, dinamis dalam berpikir, cerdas dalam berkreasi, berinovasi serta selalu beradaptasi dengan zaman yang termanifestasi dalam kesalehan sosial adalah prasyarat meraih kemenangan Idul Fitri yang hakiki dalam bingkai persatuan dan kesatuan bangsa.

Mari sambut kemenangan ini dengan gema takbir, tahmid dan tahlil sebagai bentuk komitmen spritualitas akan hadirnya perubahan diri dan sikap optimis setiap generasi bangsa yang akan dipersembahkan untuk kemajuan bangsa kedepan. Insyaallah dengan kesiapan diri untuk berubah menjadi pribadi-pribadi yang bertakwa, pribadi-pribadi yang optimis yang ditopang semangat cinta tanah air, problematika bangsa ini akan segera berakhir.

Mari satukan tekad dan komitmen untuk berjuang bersama menuju Indonesia sehat – Indonesia bangkit dari keterpurukan. Dengan kematangan jiwa dalam bersikap, keluruhan akhlakul karimah dalam bertindak, konsistensi dalam prinsip keimanan, saling percaya dan saling memaafkan yang didemonstrasikan dalam kehidupan baik secara individual maupun sosial akan memancarkan cahaya ketakwaan dan kemenangan yang hakiki.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Lailaha Illallahu huwallahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamdu. Selamat Idul Fitri mohon maaf lahir batin.(**)

*Penulis : Plt. Sekretaris DPD Golkar Sumenep

“Redaksi PortalMadura.Com menerima tulisan opini, artikel dan tulisan lainnya yang sifatnya memberi sumbangan pemikiran untuk kemajuan negeri ini. Dan semua isi tulisan di luar tanggung jawab Redaksi PortalMadura.Com”.

.
.

Komentar