Infrastruktur Hancur, Ini Surat Terbuka Warga Sumenep Buat Busyro-Fauzi

  • Bagikan
Kondisi Jalan Desa Batuputih Daya
Kondisi Jalan Desa Batuputih Daya (Foto: Subaidi Baday)

PortalMadura.Com, Sumenep – Masyarakat Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, ternyata masih ingat betul terhadap janji-janji Bupati A Busyro Karim-Achmad Fauzi (Busyro-Fauzi) saat melakukan kampanye 3 tahun lalu.

Kader terbaik PKB dan PDI Perjuangan ini, salah satunya pernah berkunjung ke Desa Batuputih Daya, Kecamatan Batuputih, Sumenep, untuk meraup dukungan suara sebanyak-banyaknya. Kala itu, tentu seabrek janji disodorkan pada warga.

Janji politik itu memang terbukti. Busyro-Fauzi menang melawan rival politiknya, Zainal Abidin-Dewi Khalifah (ZA-Eva) yang diusung gabungan delapan parpol (Partai Demokrat, PAN, PPP, Gerindra, Golkar, PKS, Hanura, dan Partai Bulan Bintang).

Dalam penetapan Perolehan Suara Hasil Pemilihan Calon Bupati dan Calon Wakil Bupati oleh KPU Sumenep tanggal 17 Desember 2015, Busyro-Fauzi unggul 1,7 persen atau 10.108 suara dari ZA-EVA yang memperoleh 291.779 suara. ZA-EVA pun sempat ke MK meski akhirnya kandas.

Janji-janji Busyro-Fauzi itu, seperti terekam dalam ingatan masyarakat Desa Batuputih Daya. Salah satunya, pembangunan infrastruktur, seperti jalan penghubung desa yang hancur bertahun-tahun.

Hingga hari ini, Jumat (5/1/2018), kondisi jalan di desa tersebut tidak kunjung ada perbaikan. Sehingga warga cemas, pemerintahan Busyro-Fauzi keburu lengser, tapi kondisi jalan yang merupakan penupang utama sektor perekonomian rakyat tetap tidak diperbaiki.

Kecemasan tersebut, tergambar detail dalam sebuah surat terbuka yang disampaikan #Subaidi Baday dalam sebuah akun Media Sosial (Medsos) facebook, Kamis malam (4/1/2018), sekitar pukul 21.35 WIB.

“Cemas karena takut jalan kami ini tak bakal diperbaiki oleh Pemkab, cemas karena takut masih nunggu satu dua tahun lagi untuk disentuh hingga bapak Bupati dan wakil bupati lengser dari jabatannya dan takut ucapan bapak jadi hutang yang tak dibayar tunai,”

Surat terbuka tersebut, mendapat respon dari para netter. Ada yang mengusulkan desa agar menggunakan dana desa (DD). Namun, netter lain, termasuk Ketua GP Ansor Sumenep, #Em Muhri ikut nimbrung dalam kolom komentar.

#Em Muhri : Nampaknha gak cukup kalau cuma DD apalagi ADD karena jalan tersebut cukup panjang, sekitar 2 km, hal ini sebenarnya tanggungjawab Bina Marga Sumenep

#Bossmuda Ramayana Setakroniro : Jerea paleng polana e batuputih daya..suaranya kalah..kan tak tuli epateppak tadz..

#Moh Fiqih : Setau saya pak busro dan pak pausi di batuputih daya menang telak saya walaupun ank bau ingusan tau tentang kemenangan pilbub tahun 2015 yang memenangkan k busro and bapk fauzi.

Berikut isi surat terbuka, salah seorang warga Desa Batuputih Daya, Kecamatan Batuputih, Sumenep:

Untuk Bapak Bupati dan Wakil Bupati Sumenep

https://youtu.be/7RS52Oa19JQ

Beberapa tahun yang lalu, diingatan saya masih terngiyang ketika Bapak K. Busyro dan Bapak Fauzi hendak maju sebagai Cabub-Cawabup Sumenep periode 2015-2020 datang ke tempat kami Desa Batuputih Daya, Kec. Batuputih, dan Beliau mengutarakan beberapa patah kata yg membuat masyarakat yakin kalau kelak ditangan dua pemimpin ini kami punya asa dan harapan Desa kami teraliri listrik, punya jaringan telpon, jalan” desa yg mapan, ekonomi rakyat tak sulit dan akses infrastruktur ke kecamatan dan kota mulus. Kami masyarakat Batuputih Daya punya ambisi, harapan, dan mimpi agar kami tak terbelakang, tak ndeso, maju secara ekonomi, tradisi dan wisata. Tentu, beberapa poin itu seperti mimpi di siang bolong. Tak masalah. Karena sebagian itu sudah tertunaikan berkat kebijakan Pak Bupati dan wakilnya. Terimakasih!

Namun ada sedikit pidato bapak tiga tahun silam yg hadir di tanah kami yg kering ini belum tertunaikan. Entah kami tak paham sebagai rakyat biasa yg hanya akrab dengan cangkul, arit, dan lainnya. Atau mungkin ketidaktahuan kami dg anggaran daerah, belanja daerah, peraturan daerah, sehingga kami menyampaikannya ke Bapak Bupati dan wakilnya perihal ini. Kami ingat kalau dua pasangan ini dulu akan mengaspal jalan jalur kecamatan ke Desa Kami karena jalan ini adalah jalan utama sekaligus jantung perekonomian Desa untuk akses kami ke kecamatan, ke pasar untuk menjual hasil pertanian, dan ke kota.

Sudah tiga tahun berlalu, jalan masih terjal, berbatu, hancur dan tak layak disebut sebagai jalan utama bahkan beberapa minggu yg lalu seorang teman dari Jogjakarta datang ke rumah saya, ia bilang kalau jalan tersebut tak layak dilalui motor, jalan tersebut lebih layak dipakai untuk kuda. Hati saya terenyuh dan teriris, dalam hati berkata “separah inikah desa saya?”.

Bila kita flashback, di jalan ini ada banyak kejadian yg tak seharusnya terjadi. Ada orang jatuh dari motor hingga luka parah, mobil bersenggolan, ban kempes, dan sopir taksi yg mengeluh waktu lama untuk ke pasar dan onderdil yg cepet rusak. Berapa banyak kerugian masyarakat, berapa banyak kenestapaan tahunan yg ditanggungkan kepada kami, berapa banyak BBM yang dihabiskan, berapa banyak dan berapa banyak. Tak terhingga.

Apa mungkin ini takdir Desa kami untuk tetap terbelakang dan tetap terabaikan? Kami tak punya jawaban karena kami tak paham semua hukum baik hukum agama lebih-lebih hukum bernegara karena Bapak Bupati dan Wakil Bupati jauh lebih pintar dari kami dan kami juga takut kalau ini sudah garis tangan kami yang tak bisa diubah bukan garis bolpen yg berbentuk TTD yang masih bisa dihapus. Tapi kami juga takut kalau garis TTD hari ini sudah tak bisa dihapus alias permanen dan garisnya sudah ditakdirkan oleh Tuhan, sehingga TTD untuk Desa kami tak terbaca dan tak bisa digaris ulang oleh Bapak Bupati dan wakil bupati. Kami masyarakat Batuputih Daya cemas!

Cemas karena merasa tak punya mimpi untuk maju di semua bidang sebab akses infrastruktur Kecamatan dan kota tersumbat. Padahal kata Pak Presiden Joko Widodo, infrastruktur adalah jantung dan poros kemajuan ekonomi dan negara.

Cemas karena takut tahun 2018 ini hanya akan jadi “sejarah tetap” luka keterbelakangan kami di Desa Batuputih Daya yang sejak era Orde Baru jalan ini tak pernah direhab.

Cemas karena takut jalan kami ini tak bakal diperbaiki oleh Pemkab, cemas karena takut masih nunggu satu dua tahun lagi untuk disentuh hingga bapak Bupati dan wakil bupati lengser dari jabatannya dan takut ucapan bapak jadi hutang yang tak dibayar tunai. Semoga bapak bupati dan wakil bupati membaca isi hati kami masyarakat Batuputih Daya. Maaf jika kami lancang dan maaf jika kami seperti menuntut. Kami tak butuh respon dari Bapak Bupati dan wakil bupati, ini hanya curahan kesengsaraan atas kenyataan kami dan bapak tak perlu risau. Salam takdim dari masyarakat Batuputih Daya!.

(Hartono)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.