oleh

“Kok Mingkem”. Ada Apa dengan Humas Satgas Covid-19 Sumenep?

“Mingkem dalam bahasa Jawa artinya menutup mulut. Mingkem digunakan sebagai bahasa komunikasi ngoko lugu,” kata netizen pada laman brainly.co.id.

Orang Indonesia belum sepenuhnya mengenal istilah mingkem, bahkan kata ini pun tidak tercatat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Namun, sudah menjadi bahasa pasaran, kalau artinya tutup mulut atau menutup-nutupi.

Jika digunakan untuk Humas Satgas Covid-19 Kabupaten Sumenep?. Ya, semoga mewakili kegelisahan netizen yang terus-menerus mempertanyakan sikap Humas Satgas Covid-19 Kabupaten Sumenep yang “menyembunyikan” penyebutan nama PT Tanjung Odi dalam setiap melakukan rilis positif Covid-19.

Misalnya, kasus terkonfirmasi positif terpapar virus corona (Covid-19) yang dirilis Sabtu, 20 Juni 2020, disebutkan terdapat penambahan lima kasus positif Covid-19.

Mereka di antaranya, bertempat tinggal di wilayah Kecamatan Dasuk. Disusul dengan penambahan kasus 10 orang positif Covid-19 pada Senin (22/6/2020). Dan lima di antara mereka disebutnya “… adalah karyawan salah satu perusahaan di Sumenep“.

Fakta di lapangan, mereka yang disebut-sebut “… adalah karyawan salah satu perusahaan di Sumenep” merupakan karyawan PT Tanjung Odi. Salah satu perusahaan yang memproduksi rokok di Jalan Raya Sumenep-Pamekasan.

Penyebutan kalimat “… adalah karyawan salah satu perusahaan di Sumenep” menjadi kalimat amat sangat “Istimewa” bila dibandingkan dengan penyebutan latar belakang pasien lain yang diumumkan ke publik melalui rilis channel YouTube @Kominfo Sumenep.

Misalnya, karyawan Bulog Surabaya, ASN di lingkungan Pemkab Sumenep, karyawan BUMD Sumenep dan KSOP Kalianget, Sumenep. Memang tidak detail, tapi cukup mewakili latar belakang mereka yang terkonfirmasi terpapar positif Covid-19.

Nama PT Tanjung Odi menjadi “Sakti” dihadapan Humas Satgas Covid-19 Sumenep meski pihak manajemen PT Tanjung Odi mengakui bahwa yang diistirahatkan adalah karyawannya karena alasan kesehatan.

Dan mereka (yang diistirahatkan) statusnya tetap diakui sebagai karyawan PT Tanjung Odi dan hak mereka sebagai pekerja tetap akan dipenuhi oleh pihak manajemen.

Para pihak tentu akan mendukung pencegahan Covid-19 dengan cara mengikuti anjuran protokol kesehatan Covid-19 tanpa harus tebang pilih atau menyembunyikan yang seharusnya tidak disembunyikan.

Bahkan, semangat Bupati Sumenep A Busyro Karim yang menyebutkan “nyawa manusia lebih penting” didahulukan adalah sikap tegas dan sangat berdasar.

Kalimat “penyelamatan nyawa lebih penting” itu muncul saat menjawab keinginan para pelaku wisata yang ingin cepat membuka usaha wisatanya di tengah pandemi Covid-19.

Wabah Covid-19 juga diakui kalau berdampak pada semua sektor kehidupan, termasuk ekonomi warga Sumenep. “Semuanya kena dampak,” ujar Busyro kala itu.

Namun saat ini, sudah menjadi rahasia umum dan netizen tetap bertanya-tanya kenapa PT. Tanjung Odi masih beroperasi?. Pertanyaan ini muncul di berbagai linimasa media sosial sejak awal ditutupnya sejumlah usaha warga Sumenep karena untuk menghindari kerumunan massa.

Disusul dengan adanya kasak-kusuk lebih 100 pekerja PT. Tanjung Odi reaktif dari hasil rapid test dan hingga hari ini, Senin (22/6/2020) memang terbukti di antara mereka yang sedang diistirahatkan ada yang harus menjalani isolasi di rumah sakit karena hasil swab-nya positif Covid-19. Lagi-lagi “… adalah karyawan salah satu perusahaan di Sumenep“.

Semua warga Sumenep tentu tidak ada yang ingin terpapar virus corona. Semua ingin selamat bahkan kondisi ekonomi mereka menginginkan seperti semula, termasuk pekerja yang sehat dan masih bekerja di PT. Tanjung Odi karena tetap beroperasi. — Salam Redaksi –(*)

Penulis : Hartono
.
Tirto.ID
Loading...

Komentar