oleh

Mendukung Reaktivasi Kereta Api di Madura

Oleh: Amirullah*

Untuk mendukung pengembangan koneksivitas jaringan transportasi, pemerintah berancana akan mengaktifkan kembali (reaktivasi) jalur kereta api (KA) non-aktif di wilayah ring 1 Jawa-Timur.

Selamat Ibadah Puasa

Wilayah pengembangan tersebut berada di Gerbangkertosusila, meliputi Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, dan Lamongan.

Dalam rangka mendukung upaya tersebut pemerintah akan menghidupkan sejumlah stasiun/jalur KA lama seperti di Gresik, Babat, Jombang, dan Tuban.

Data Dinas Perhubungan (Dishub) Jatim dari 1.525,19 km yang tercatat berada di seluruh wilayah propinsi, yang masih aktif sepanjang hanya 910,19 km. Sedangkan sisanya sekitar 615 km jalur kereta lainnya sudah tidak beroperasi.

Di sisi lain untuk mendukung pengembangan wilayah Jatim secara menyeluruh, penulis mengusulkan rencana reaktivasi jalur KA non-aktif tidak hanya dilakukan pada jalur Gerbangkertosusila, tetapi juga di Madura.

Alasannya adalah karena di Madura, jalur KA sudah pernah eksis menghubungkan seluruh kabupaten mulai Bangkalan (Kamal)-Sampang-Pamekasan hingga Sumenep (Kalianget).

Selain itu, reaktivasi jalur KA juga diharapkan mampu menjadi moda angkutan massal/barang alternatif, meningkatkan aktivitas ekonomi di sepanjang wilayah jalur/stasiun, dan sekaligus mendukung sektor pariwisata di Madura.

Rencana reaktivasi jalur KA di Madura juga didukung oleh sejumlah pihak salah satunya dari sejumlah anggota DPR RI dari daerah pemilihan Madura (Radar-Madura JP, 23/2/2020).

Dukungan serupa juga datang dari beberapa anggota DPRD Jawa Timur asal daerah pemilihan Madura. Pertimbangan mereka adalah keberadaan jalur KA selain bisa mengurangi kemacetan, juga diharapkan mampu memperkecil angka kecelakaan lalu lintas.

Jalan provinsi di Madura yang ada sudah relatif sempit dan pertumbuhan jumlah kendaraan sudah tak sebanding dengan kapasitas jalan, sehingga sangat rawan kecelakaan.

Solusi yang dibutuhkan tentu adalah transportasi massal, aman, nyaman, murah dan pilihannya yang ada sekarang hanya ada pada kereta kereta api.

Ide membangkitkan kembali KA juga menjadi pilihan pengganti terhadap rencana pembangunan jembatan layang untuk memecah kemacetan di sejumlah pasar tumpah di jalur provinsi sepanjang Madura (http://kominfo.jatimprov.go.id/read/umum/dprd-jatim-minta-jalur-kereta-api-di-madura-dihidupkan-kembali, 20/9/2020).

Kereta Api di Madura

Lintasan KA antara Kalianget (Sumenep) sampai dengan Kamal (Bangkalan) pertama kali dibuka oleh Pemerintah Hindia Belanda bagian demi bagian antara tahun 1898 s/d 1901.

Adapun tahapan pembukaan jalur KA di Madura ketika itu adalah: Kamal-Bangkalan (1898), Bangkalan-Tunjung (1899), Tunjung-Kwanyar (1900), Tanjung-Kapedi (1900), Kapedi-Tambangan (1900), Tambangan-Kalianget (1899), Kwanyar-Blega (1901), Tanjung-Sampang (1901), Sampang-Blega (1901), dan Kamal-Kwanyar (1913).

Pembukaan masing-masing jalur KA tersebut mengacu kepada nama-nama stasiun pemberhentian (spoorstation) dan sebagian besar berada sejajar dengan jalan raya di bagian selatan Pulau Madura.

Pada Buku: “Madura Dalam Empat Jaman: Pedagang, Perkembangan Ekonomi, dan Islam”, (Huub de Jong, 1987: 13) dipaparkan bahwa pada jaman Hindia Belanda jalur KA dikelola oleh Madura Stoomtram Maatschappijdan awalnya digunakan sebagai sarana angkutan garam antara Kalianget dan Kamal maupun sebaliknya.

Sejak masa Hindia-Belanda, Kalianget sudah dikenal sebagai pusat pembuatan garam di Madura. Pada perkembangan lebih lanjut KA ini tidak hanya melayani angkutan garam, penduduk lokal juga menjadikan sebagai sarana angkutan yang paling cepat dan murah di masanya. Perjalanan KA dari titik awal sampai akhir, di jaman itu berlangsung hampir sehari penuh.

Perjalanan dengan KA selanjutnya disambung dengan dengan kapal-kapal tambang (feri) rute Kamal-Surabaya dan rute Kalianget-Panarukan. Kedua rute kapal feri tersebut juga dikola oleh Madura Stoomtram Maatschappij.

Pada referensi Buku Jarak yang dibuat oleh Djawatan Kereta Api pada tahun 1950 hanya memuat segmen (rute) Kamal–Pamekasan dan Kamal–Bangkalan. Segmen Tanah Merah-Kwanyar dan Pamekasan-Kalianget ditutup pada tahun 1936-1937 karena Madura Stoomtram Maatschappij tidak dapat memperoleh untung dari jalur lintasan tersebut.

Selama periode 1942-1945, jalur rel Kalianget–Pamekasan dibongkar Jepang untuk mendukung kepentingan mereka pada Perang Pasifik. Pada tahun 1980-an perlahan-lahan Perusahan Jawatan Kereta Api (PJKA) mulai mengalami kerugian akibat kalah bersaing dengan mobil pribadi, bis, dan moda angkutan umum lain, sehingga PJKA (sekarang PT. Kereta Api Indonesia/KAI) akhirnya menutup penuh seluruh jalur di Madura pada tahun 1984, serta prasarana ini sudah sepenuhnya tak lagi digunakan sejak 1987 (https://id.wikipedia.org/wiki/Madoera_Stoomtram_Maatschappij, diakses 13/3/2021).

Keberhasilan pengoperasian kereta api di Jawa, telah mengispirasi Pemerintah kolonial Hindia-Belanda untuk mengoperasikan moda transportasi sejenis di Madura.

Perbedaannya pengoperasian kereta api di Madura lebih didukung adanya potensi ekonomi berupa produksi garam yang begitu melimpah khususnya di wilayah Kalianget dan kebiasaan migrasi masyarakat asli Madura ke luar Madura melalui pelabuhan Kamal menuju Surabaya atau wilayah lain di penjuru Nusantara.

Sedangkan pengoperasian KA di Pulau Jawa karena didorong oleh melimpahnya hasil-hasil perkebunan. Pada masanya Madoera Stoomtram Maatschappij total mampu mengoperasikan sebanyak 33 lokomotif dan 300 gerbong lebih pada jalur rel sepanjang 233 km di Madura.

Untuk menjalankan bisnis transportasi tersebut, Madoera Stoomtram Maatschappij mempekerjakan banyak pegawai meliputi pegawai Hindia Belanda (etnis Eropa) maupun pribumi. Pada masanya transportasi KA di Madura dikelola dengan baik sehingga banyak diminati oleh masyarakat Madura menggantikan alat transportasi tradisional berupa kereta yang ditarik hewan (kuda atau sapi) (M. Masykur Ismail, 2007, http://repository.unair.ac.id/26934/, diakses 13/3/2021)

Faktor Pendukung

Usulan reaktivasi jalur KA di Madura cukup relevan dalam rangka mewujudkan keberadaan moda transportasi alternatif. Moda angkutan ini diharapkan dapat mereduksi peningkatan volume kendaraan baik ringan atau berat di jalan arteri Madura lintas selatan sejak beroperasinya Jembatan Suramadu sejak tahun 2009 dan pengratisan fasilitas penyeberangan pada akhir tahun 2018.

Untuk mendukung wacana tersebut, ada beberapa faktor yang harus menjadi bahan pertimbangan bagi stakeholder dalam mendukung reaktivasilintasan KA di Madura.

Pertama, investasi pembukaan kembali jalur KA. Dana terbesar untuk membuka kembali transportasi KA adalah membangun kembali jalur Pamekasan-Kalianget (Sumenep), karena jalur ini sudah ditutup sejak jaman pendudukan Jepang.

Artinya, pemerintah harus menyediakan anggaran besar untuk pembebasan lahan, pengadaan rel baru dan infarstruktur pendukung meliputi; lokomotif, gerbong, stasiun, pos penjaga, pintu perlintasan, dan fasilitas sinyal pengaman perjalanan KA.

Model pendanaan yang dapat dilakukan adalah Pemkab Sumenep dan Pamekasan siap menanggung anggaran pembebasan tanah untuk jalur baru melalui APBD, sedangkan pengadaan rel dan semua infrastruktur pendukung ditanggung oleh APBD Pemerintah Propinsi Jawa-Timur dan APBN Pemerintah Pusat.

Pemkab Pamekasan, Sampang, dan Bangkalan juga diharapkan mampu menyediakan anggaran untuk dana ganti rugi bangunan bagi pembukaan jalur KA Pamekasan, Sampang, hingga Kamal (Bangkalan) jika ketiga kabupaten bermaksud hanya mengaktifkan jalur lama KA yang kini sebagian besar berubah fungsi menjadi bangunan dan fasilitas umum.

Sebagai ilustrasi saja, berdasarkan hasil studi pengembangan jalur KA Gerbangkertosusila yang dilakukan Kemenhub bersama operator KA asal Prancis, biaya total yang dibutuhkan diperkirakan mencapai sekitar Rp. 16 triliun dimana 25% di antaranya dipakai untuk reaktivasi rel-rel mati yang akan dilintasi (JP, 15/7/2019).

Biaya tersebut tentu akan semakin membengkak, jika rencana pembukaan kembali akan diperluas hingga lintasan KA di seluruh Madura (Pamekasan hingga Kalinget).

Kedua, Integrasi jalur KA dengan Kawasan Suramadu. Untuk mendukung fungsi Jembatan Suramadu dibutuhkan penambahan jalur baru KA dari Kwanyar ke wilayah kaki jembatan di Labang (Bangkalan). Pembukaan stasiun KA baru di Labang, bertujuan memudahkan akses transportasi masyarakat dari dan menuju kota-kota di Madura ketika usai dan akan melintasi Jembatan Suramadu.

Pembukaan akses transportasi KA, juga harus diimbangi dengan peningkatan kualitas jalan di Madura berwujud pelebaran jalan arteri, perawatan dan perbaikan jalan rusak. Transportasi KA di Madura akan semakin lengkap, jika diintegrasikan dengan jalur KA di Surabaya berwujud pembukaan jalur rel baru mulai stasiun terdekat (Sidotopo) ke kaki jembatan di Tambakwedi Surabaya.

Ketiga, aspek pembukaan area bekas jalur rel KA. Kendala jamak pembangunan infrastruktur dan fasilitas umum oleh pemerintah adalah pembebasan lahan. Apalagi sekarang rata-rata bekas jalur rel KA sebagian sudah beralih fungsi menjadi bangunan, toko, pasar, trotoar, jalan umum dan bahkan bisa diperjualbelikan.

Namun demikian untuk kasus pembukaan kembali jalur KA di Madura, persoalan ini sebenarnya tidak perlu menjadi kendala, karena status jalur bekas rel adalah tanah milik negara.

Artinya, kelak pemerintah cukup memberikan ganti rugi bangunan secara layak, jika jalur KA diaktifkan kembali. Kunci utama untuk mendukung usulan di atas adalah sosialisasi mengenai arti penting moda transportasi KA selain jalan raya bagi penduduk setempat, dalam rangka mendukung pengembangan dan integrasi kawasan.

Jika pilihan tersebut mengalami kendala akibat aspek sosial, misalnya untuk jalur yang sudah beralih fungsi dan sulit dibebaskan di perkotaan, opsi lainnya adalah membangun jalur dan infrastruktur baru dalam rangka reaktivasi KA.

Konsekuensi biaya dan investasi aktivasi kembali jalur KA tentuakan semakin membengkak. Usai pengumuman pemenang Pilpres 2019 oleh KPU, Jokowi pernah menyatakan bahwa dia bersama KH Makruf Amin akan menjadi pasangan presiden dan wakil presiden bagi seluruh rakyat Indonesia periode 2019-2024.

Berkaca pada komitmen ini penulis berharap pemerintahannya akan benar-benar mewujudkan janji tersebut, terlepas dari hasil Pilpres 2019 di Madura yang mayoritas hasilnya memenangkan pasangan Prabowo-Sandi.(**)

*Penulis : Dosen Universitas Bhayangkara Surabaya,
Kelahiran Sampang
E-mail : amirullah@ubhara.ac.id

“Redaksi PortalMadura.Com menerima tulisan opini, artikel dan tulisan lainnya yang sifatnya memberi sumbangan pemikiran untuk kemajuan negeri ini. Dan semua isi tulisan di luar tanggung jawab Redaksi PortalMadura.Com”.

.
.

Komentar