oleh

Mengenal Desa Pocong, dalam Kepemimpinan Wanita Cantik

Ada dua macam seni ukir kayu yang dikerjakan. Pertama, teknik ukir dengan cara memasukkan atau menempelkan kayu kecil pada kayu lebih besar sesuai pola gambar. Penduduk setempat menyebutnya ukir isian. Tehnik ukir ini punya tingkat kesulitan tinggi. Tidak salah bila harga jualnya mahal. Kedua, seni ukir biasa dengan menggunakan alat ukir pada umumnya.

Salah satu sudut Desa Pocong, dimana masyarakatnya mengandalkan sektor pertanian sebagai mata pencaharian utama. (Foto: Agus Hidayat)
Salah satu sudut Desa Pocong, di mana masyarakatnya mengandalkan sektor pertanian sebagai mata pencaharian utama (Foto: Agus Hidayat)

Sayang, usaha yang sempat berkembang ini telah ditinggalkan sejumlah pengrajin pasca terjadinya Bom Bali I pada Oktober 2002. Lebih menyedihkan lagi karena konsumen atau pemesan seni ukir desa ini banyak datang dari Bali. Kini mereka memilih bertani agar dapur tetap mengepul. Walau masih ada yang menggeluti usaha ini, namun pesanan yang datang tidak bisa dipastikan.

“Kalau sekarang mungkin tersisa empat orang, termasuk saya. Tapi hanya mengerjakan ukiran biasa. Rasanya tidak sanggup lagi kalau ada yang pesan ukiran isian. Selain pembuatannya rumit, perlu beberapa jenis kayu yang tak semuanya bisa didapat di sini,” terang Sujono, salah satu pengukir yang mengaku tidak tahu tanggal lahir serta usia.

Diungkapkan Sujono, melejitnya seni ukir Desa Pocong terjadi di tahun 1990-an hingga awal 2000-an. Pesanan yang datang tidak hanya dari individu, tapi juga pengepul. Ia mengaku sampai kewalahan, dan harus membentuk kelompok kerja hingga sepuluh orang untuk menyelesaikan pesanan yang datang.(*)

Baca Juga :

https://portalmadura.com/bawa-1-kg-sabu-warga-pontianak-diamankan-di-madura-diancam-hukuman-mati-207683

Penulis : Agus Hidayat
Editor : Putri Kuzaifah
Tirto.ID
Loading...

Komentar