oleh

Mengenal Jemparingan, Panahan Tradisional yang Digemari di Bangkalan (Part 1)

Posisi Duduk dan Cara Memanah Jadi Simbol Filosofi Hidup

Seberapa familiar telinga kita mendengar kata “jemparingan”? Jika terdengar asing, maka tidaklah berbanding lurus dengan geliat yang terjadi di Bangkalan. Panahan tradisional ini mulai digemari, bahkan telah dilombakan berskala nasional di Kota Salak.

Jemparingan PART 1 01
Sebagian anggota Paguyuban Jemparingan Songgo Sukmo (PJSS). Tampak di antara mereka adalah anak-anak (Foto: Istimewa)

PortalMadura.Com, Bangkalan – Selain sarat muatan tradisional, jemparingan menyimpan sisi filosofi mendalam. Dikatakan tradisional oleh karena peralatan jemparingan terbuat dari bahan kayu. Lain itu, pemanah biasanya mengenakan pakaian tradisional. Sedangkan dalamnya filosofi disimbolkan lewat posisi duduk serta sejumlah gerakan saat hendak melepas anak panah ke sasaran.

Jemparingan berasal dari kata Sunda “jamparing”, yang artinya anak panah. Jika kembali pada masa sejarah, jemparingan identik dengan sekelompok orang yang dibekali kemampuan memanah dengan maksud melawan musuh. Singkat kata, jemparingan dulunya adalah pasukan panah.

Era Kerajaan Madura Barat, terhitung sejak Raden Prasena naik tahta tahun 1624 dengan gelar Pangeran Cakraningrat I, pernah diperkuat pasukan panah. Konon, Raden Prasena pula yang melatih pasukan panah Kerajaan Mataram. Ini tidak lepas dari sikap loyalnya terhadap Raja Sultan Agung, hingga kemudian beliau menjadi menantu sang raja.

“Sejarah mencatat pula, tiga kali Mataram menyerang Kerajaan Madura Barat. Namun usaha tersebut tak membuahkan hasil. Salah satu penyebabnya karena kewalahan menahan gempuran pasukan panah. Ini membuktikan kalau Kerajaan Madura Barat juga punya pasukan panah,” ungkap R. Muhammad bin Rachmad (33), penggiat jemparingan di Bangkalan.

Kata “jemparingan” mungkin lebih akrab terdengar di telinga masyarakat Pulau Jawa, khususnya Jawa Tengah dan DI Yogyakarta. Perkumpulan jemparingan menjamur dengan pesat di kedua provinsi tersebut. Berawal dari pasukan, jemparingan kini berkembang menjadi olahraga tradisional, bahkan dilombakan dari skala lokal hingga nasional.

Di Bangkalan, jemparingan dikenal dengan nama pajer. Panahan tradisional ini mulai kebanjiran penggemar di kabupaten paling selatan Madura. Sedang di daerah tapal kuda Jawa Timur, jemparingan disebut paser.

Misi …

Penulis : Agus Hidayat
Editor : Putri Kuzaifah
Tirto.ID
Loading...

Komentar