oleh

Minta Rp17 Juta, Wanita Ini Nyaris Jadi Korban Pemerasan 2 Pria Ngaku Wartawan

PortalMadura.Com, Sumenep – Pengawas Tk/SD UPT Pendidikan Kalianget, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, Ariyani, nyaris menjadi korban pemerasan dua orang pria yang mengaku wartawan.

“Pria itu, menunjukkan kartu pers dan yang satunya tidak ada. Katanya, ketinggalan di rumahnya,” kata Ariyani pada PortalMadura.Com, Sabtu (23/4/2016).

Dua pria itu menunjukkan surat tugas dari salah satu perusahaan media yang berkantor pusat di Sukatani Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, berinisial AS dan AG. Sedangkan AG tidak mengantongi identitas diri.

Ia menceritakan, AS dan AG datang ke kantor UPT Pendidikan Kalianget, Sumenep, Jumat (22/4/2016).

Sebelum korban datang, kedua pria itu sudah ada di kantor UPT dan sudah mengambil gambar ruangan tanpa ijin staf kantor.

“Pada saat saya mau masuk ke pintu kantor, tiba-tiba ada dua pria itu dan mengambil gambar dengan menggunakan handycam. Sambil bilang, ibu ndak tahu ya, ini bu, ada pelecehan seksual,” katanya menirukan ucapan salah satu pria itu.

Ia pun kaget, karena selama ini tidak ada laporan apapun atau isu seperti yang disampaikan ‘wartawan’ tersebut. “Saya bilang tidak ada apa-apa kok. Karena memang tidak ada masalah serius yang perlu ditangani oleh pengawas,” ujarnya.

Ariyani berusaha melayani dan melakukan komunikasi dengan dua pria itu. Bahkan, dipersilahkan agar duduk dan bicara dengan baik-baik.

“Keduanya tetap bicara tidak sopan, hingga akhirnya saya minta menunjukkan kartu pers. Namun, yang inisial AG tidak bisa menunjukkan identitas. Alasannya tertinggal di rumahnya,” urainya.

Pada pukul 16.00 Wib, Ariyani pun menerima telepon dari salah seorang petugas Polres Sumenep. “Isi pembicaraan dalam telpon itu, saya dilaporkan merampas kartu pers mereka. Padahal, diberikan dan ditunjukkan ke saya,” ucapnya.

Ariyani pun datang ke polres untuk menjelaskan kronologis kejadian tersebut. Akhirnya, petugas Polres memahami dan persoalan dianggap selesai. “Kata petugas di Polres sudah tidak ada masalah,” tandasnya.

Sempat Minta Uang Rp 17 Juta

Kedatangan dua pria yang mengaku wartawan ke kantor UPT Pendidikan Kalianget, Sumenep tersebut diduga berawal dari informasi, bahwa ada salah seorang oknum guru inisial AK yang dikabarkan melakukan pelecehan seksual pada siswanya.

“Ada oknum guru di Kalianget yang dikabarkan melakukan pelecehan seksual pada siswanya. Padahal, itu tidak benar. Dan orangnya sekarang sudah diberi tugas di kantor untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan,” terang Pengawas Tk/SD UPT Pendidikan Kalianget, Kabupaten Sumenep, Ariyani.

Hasil investigasi yang dilakukan pihaknya, oknum guru itu hanya memberi tindakan dalam kelas pada saat pelajaran berlangsung pada salah satu siswinya karena tergolong ‘lemot’ dalam menerima pelajaran.

“Kasus ini sudah tidak ada masalah dan sudah diselesaikan bersama orang tua siswi itu. Artinya, sudah sama-sama memahami dan sudah damai,” katanya.

Berawal dari kabar itu, dua pria yang mengaku wartawan sempat mendatangi oknum guru tersebut dan meminta uang sebesar Rp17 juta. “Uang itu, katanya untuk menghapus sekian ribu eks koran yang sudah dicetak,” ujarnya.

Oknum guru itu tidak mengindahkan permintaannya. Namun, aksi kedua pria itu tidak berhenti, tapi melancarkan aksinya dengan menurunkan harga yakni dari Rp17 juta turun ke Rp15 juta, Rp 10 juta, Rp 5 juta, hingga akhirnya minta uang Rp2 juta.

“Hingga saat ini, guru itu tetap tidak memberikan uang seperti permintaan mereka. Apalagi saya yang tidak punya uang,” katanya.

Ia mengaku tidak alergi dengan wartawan yang memang benar-benar mau melakukan peliputan. Namun, harus dengan sikap yang sopan dan mengedepankan etika jurnalistik. (Hartono)


Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.