oleh

Mohammad Noer, Sang Pamong Abdi Rakyat

Nama lengkapnya Raden Panji Mohammad Noer, namun pria kelahiran Sampang 13 Januari 1918 ini akrab di Panggil Cak Noer oleh para sahabat dan Warga Jawa Timur. Tokoh Madura yang juga menjadi Gubernur ketujuh Propinsi Jawa Timur ini dikenal sebagai sosok pemimpin yang sangat akrab dengan rakyat.

Bahkan banyak orang yang menjulukinya sering disebut dengan gubernurnya rakyat kecil, selain karena kedekatanya dengan rakyat. Mohammad Noer juga terkenal dengan salah satu ungkapanya “Agawe Wong Cilik Melu Gumuyu” (membuat rakyat kecil ikut tertawa) yang disampaikannya di depan Sidang Umum Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Maret 1973, sebagai Ketua Fraksi Utusan Daerah.

Mohammad Noer mengawali kariernya sebagai pegawai magang di kantor Kabupaten Sumenep pada 1 Juli 1939.Setelah setahun magang, ia kemudian diangkat menjadi Pegawai Pangreh Praja Penuh pada 1 Agustus 1941 dan menjabat sebagai Mantri Kabupaten Bangkalan.

Namun di akhir tahun 1941, Jepang mulai memasuki wilayah Indonesia. Jepang yang tengah dalam peperangan besar melawan sekutu di Pasifik Selatan kemudian membentuk satuan Tentara Pembela Tanah Air (PETA) yang dimaksudkan untuk membantu pasukan Jepang melawan musuh perangnya. Seiring dibentuknya PETA, masing-masing kabupaten diwajibkan untuk mengirimkan beberapa pemuda untuk dilatih militer di Bogor. Mohammad Noer ditunjuk Bupati Bangkalan R.A. Cakraningrat untuk mengikuti pelatihan ketentaraan tersebut. Setelah menyelesaikan pelatihan di Bogor, Mohammad Noer kemudian diangkat sebagai chudancho (perwira setingkat kapten) dan diserahi tugas untuk memimpin sebuah kompi. Dengan terpaksa Mohammad Noer harus meninggalkan posisi sebelumnya sebagai mantri dan konsentrasi memimpin satuannya di pantai utara Madura.

Setelah PETA dibubarkan pada 15 Agustus 1945 diikuti dengan proklamasi kemerdekaan, Mohamad Noer kembali menjadi seorang pamong praja dan menjabat sebagai Asisten Wedana atau setara Camat Kabupaten Bangkalan pada 1 September 1945.Tugas ini ia rasa cukup berat, karena Mohammad Noer harus menyampaikan pengertian kepada masyarakat akan kemerdekaan Indonesia, serta memperbaiki kembali segala perangkat kepamongprajaan yang rusak akibat diporakporandakan penjajahan Jepang.

Kariernya terus meningkat, setelah mengemban tugas sebagai Asisten Wedana, ia kemudian diangkat menjadi Pembantu Bupati Bangkalan. Di jabatan barunya ini, Mohammad Noer aktif merintis pembangunan sekolah-sekolah dasar dengan mengajak masyarakat bergotong-royong. Ia sering terjun ke pelosok-pelosok wilayah Kabupaten Bangkalan dengan sepeda untuk meninjau langsung kegiatan di lapangan. Jabatan ini dijalaninya selama 10 tahun. Ada dugaan bahwa stagnansi jabatan ini karena prinsipnya yang tidak ingin bergabung dengan partai politik yang berkuasa saat itu.[14] Sebagaimana diketahui dalam periode demokrasi liberal menjelang diberlakukannya kembali UUD 1945 itu, politik adalah panglima. Namun Mohammad Noer tidak pernah risau akan hal itu, ia menganggap bahwa hal ini mengandung hikmah yang mendalam dan memberikannya banyak pengalaman dan pengetahuan akan kepemerintahan.

Pada tahun 1959, dalam sidang lengkap Dewan Perwakilan Daerah Tingkat II Kabupaten Bangkalan mengangkat Mohammad Noer yang tidak berpartai itu terpilih menjadi Bupati Kepala Daerah Tingkat II Kabupaten Bangkalan.Sebagai Bupati, Mohammad Noer menjalankan Program 3P yaitu Pendidikan menuju Tauhid agar melek huruf; Percaya kepada Allah supaya hatinya bersih; dan Perhubungan agar tidak ada lagi daerah terpencil. Mohammad noer kemudian melakukan program perbaikan dan pelebaran jalan di dalam Kabupaten Bangkalan serta melakukan program peningkatan pendidikan dengan membangun SMA Negeri Bangkalan dimana ia langsung bertindak sebagai ketua panitianya. Mohammad Noer dikenal sebagai orang yang tepat waktu. Pernah ada suatu kesempatan, Mohammad Noer mendapat undangan rapat paripurna DPRD Tingkat II Kabupaten Bangkalan. Ia yang datang sesuai waktu undangan kemudian mendapati bahwa rapat terlambat dimulai tanpa penjelasan. Menanggapi hal tersebut, Mohammad Noer kemudian keluar ruangan dan pergi meninggalkan gedung. Hal itu membuat aparatnya untuk berhati-hati dan berusaha selalu tepat waktu.

Setelah selesai menjalani tugas sebagai Bupati, Mohammad Noer pada 1 Mei 1965 diangkat menjadi Pembantu Gubernur Jawa Timur untuk wilayah Madura yang berkantor di Pamekasan, Madura. Menurutnya ini adalah jabatan yang bersifat koordinatif, ia bukan lagi penguasa suatu daerah seperti bupati. Sebagau residen, Mohammad Noer menggalakkan program penghijauan Madura yang kemudian mengajak masyarakat sepanjang pantai Sampang sampai Pamekasan untuk menanam jambu air dan jambu monyet. Serta diikuti dengan pembangunan irigasi baru dengan menggalang dana masyarakat. Hal ini dilakukannya untuk mencapai mimpinya mengubah Madura yang kering tandus menjadi daerah yang produktif.

Pada masa transisi dari orde lama ke orde baru, keadaan Jawa Timur sangatlah rawan. Beberapa pimpinan G30S/PKI yang masih belum tertangkap melarikan diri ke hutan-hutan di Jawa Timur bagian Selatan. Pada bulan Februari tahun 1967, Gubernur Jawa Timur, Mayor Jenderal Wiyono ditugasi pemerintah pusat untuk mengikuti SESKOAD di Bandung selama 4 bulan. Hal ini menyebabkan adanya kekosongan posisi gubernur di provinsi Jawa Timur. Kemudian Menteri Dalam Negeri, Letnan Jenderal Basuki Rachmat, menunjuk Mohammad Noer untuk mengisi posisi ini atas dasar prestasinya selama menjabat sebagai Pembantu Gubernur Jawa Timur. Selain itu memang Let. Jend. Basuki Rachmat terkesan akan kegesitan Mohammad Noer saat bersama-sama gerilya saat masa Perang Kemerdekaan.

Riwayat Pendidikan

Mohammad Noer mengawali pendidikan formalnya di HIS (Hollands Inlandse School), sekolah tingkat dasar yang didirikan pemerintah Belanda untuk anak-anak kalangan aristokrasi Indonesia. Mohammad Noer bisa dikatakan sangat beruntung, sebagai cucu seorang bupati ia memenuhi syarat untuk memasuki sekolah priyayi tersebut. Disini Mohammad Noer diajarkan bahasa Belanda, bahasa Melayu, serta bahasa daerah. Pada tingkat sekolah ini, Mohammad Noer mulai memiliki kesadaran dan kesenangan akan membaca. Karya yang digemarinya adalah Siti Nurbaya dan karya-karya fiksi ilmiah karangan Jules Verne. Mohammad Noer lulus dari HIS pada tahun 1932.

Setelah menyelesaikan studinya di HIS, Mohammad Noer kemudian melanjutkan pendidikan formalnya di MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs).Awalnya Mohammad Noer disekolahkan ayahnya di MULO Surabaya, namun setahun kemudian ia dipindahkan ke MULO Blitar. Kepindahan ini mungkin karena ayahnya telah mempersiapkan agar ia kelak dapat memasuki sekolah pangreh praja. Mohammad Noer lulus dari MULO pada tahun 1936.

Mohammad Noer kemudian melanjutkan studinya di MOSVIA (Middelbare Opleidingschool voor Inlandse Ambtenaren).MOSVIA merupakan sekolah pangreh praja menengah yang didirikan oleh pemerintan kolonial Belanda, yang diperuntukkan bagi calon pemimpin bumiputera. Mohammad Noer menerima konsep kepemimpinan priyayi atau kepanjangan tangan penguasa Belanda. Beliau sebetulnya berkeinginan untuk masuk ke sekolah pertanian yang bernama MLS (Middelbare Landbouwschool), karena dilandasi oleh kondisi desa asalnya yang kering tandus serta memaksa masyarakatnya untuk pergi keluar mengadu nasib dengan perahu-perahu kecil. Namun orangtua Mohammad Noer berkehendak lain dan menyuruhnya untuk bersekolah di MOSVIA serta berkarier sebagai pamong. Mohammad Noer kemudian menyelesaikan studinya di MOSVIA pada tahun 1939.

Mohammad Noer meninggal dunia di usia 92 tahun pada 16 April 2010 sekitar pukul 08.50 WIB di Ruang ICU, Rumah Sakit Darmo Surabaya. Sebelum dimakamkan Mohammad Noer dishalatkan di tiga masjid, yaitu Masjid Al Falah Surabaya, Masjid Agung Bangkalan, dan Masjid Agung Sampang. Jenazahnya kemudian dimakamkan di pemakaman keluarga Somor Kompah, Kabupaten Sampang, Madura.

Walaupun kini Mohammad Noer telah meninggal namun jasa-jasnaya tidak akan pernah hilang salah satunya adalah Jembatan Suramadu, yang menghubungkan Pulau Jawa dengan Pulau Madura. Sebab Jembatan yang saat ini menjadi Jembatan Terpanjang dan Termegah di Indonesia ini telah dicetuskanya. Bahkan Ide Jembatan Suramadu telah hadir sejak ia menjabat sebagai Patih (Wakil Bupati) Kabupaten Bangkalan.

Mohamad Noer berharap dengan adanya jembatan tersebut ia berharap akan adanya percepatan perkembangan ekonomi di Pulau Madura yang ia ketahui sangat kering dan gersang. Selain itu ia juga telah memprediksikan akan terjadinya kepadatan di Surabaya yang berdekatan langsung dengan Pulau Madura khususnya Kabupaten Bangkalan. (dari berbagai sumber/Deny)


Komentar