Novel ‘Broken Strings’ Aurelie Moeremans Tuai Apresiasi dari KemenPPPA

Avatar of PortalMadura.com
Novel ‘Broken Strings’ Aurelie Moeremans Tuai Apresiasi dari KemenPPPA
Novel ‘Broken Strings’ Aurelie Moeremans Tuai Apresiasi dari KemenPPPA

PortalMadura.com — Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) memberikan apresiasi terhadap keberanian aktris sekaligus penulis Aurelie Moeremans yang mengungkap pengalaman traumatisnya melalui novel Broken Strings: Kepingan Masa Muda yang Patah.

Deputi Bidang Perlindungan Khusus Anak KemenPPPA, Ratna Susianawati, menyatakan bahwa langkah Aurelie merupakan bentuk nyata dari semangat *dare to speak*—berani bersuara tentang kekerasan seksual yang dialami di masa lalu.

“Justru ini harus kita apresiasi, karena artinya dare to speak, berani untuk menyampaikan,” ujar Ratna dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu (14/1/2026), dikutip dari Antara.

Menurut Ratna, tidak semua korban kekerasan seksual memiliki keberanian untuk menceritakan pengalamannya. Oleh karena itu, keputusan Aurelie untuk menuliskan memoar pribadinya dinilai sebagai langkah besar yang bisa menjadi inspirasi bagi korban lain untuk bersuara.

Novel tersebut mengangkat kisah nyata Aurelie terkait praktik grooming—modus pelaku kekerasan seksual yang membangun kepercayaan korban secara sistematis sebelum melakukan eksploitasi. Ratna menekankan bahwa kasus seperti ini masih banyak yang tersembunyi, sehingga fenomenanya sering disebut sebagai “gunung es”.

“Ini menjadi contoh baik bahwa apa yang dialami kemudian disampaikan. Tentunya nanti itu akan diatensi oleh kami,” tambahnya.

KemenPPPA juga menilai karya Aurelie sebagai pengingat penting bagi seluruh lapisan masyarakat bahwa kekerasan terhadap anak nyata, bisa terjadi pada siapa saja, dan membutuhkan kolaborasi semua pihak untuk memperkuat sistem perlindungan anak di Indonesia.

Dengan viralnya Broken Strings, harapan KemenPPPA adalah agar isu grooming dan kekerasan seksual terhadap anak mendapat perhatian lebih luas, serta mendorong upaya pencegahan dan pendampingan yang lebih masif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses