oleh

PBB Desak Bangladesh Tangguhkan Rencana Pemulangan Pengungsi Rohingya

PortalMaura.Com, Ankara – Utusan khusus untuk hak asasi manusia PBB meminta Bangladesh untuk menangguhkan rencana repatriasi pengungsi Muslim Rohingya ke Myanmar bulan ini, karena khawatir mereka akan mengalami kekerasan atau pelecehan.

“Saya belum melihat adanya bukti dari Pemerintah Myanmar dalam mengambil langkah-langkah nyata dan konkret untuk menciptakan lingkungan di mana Muslim Rohingya dapat kembali ke tempat asal mereka dan tinggal di sana dengan aman dengan hak-hak dasar yang terjamin,” kata Yanghee Lee, pelapor khusus untuk hak asasi manusia di Myanmar, dalam sebuah pernyataan di situs web PBB pada Selasa.

Lee mengatakan dia khawatir Rohingya akan mengalami penderitaan, kekerasan atau pelecehan karena Myanmar telah gagal mengambil langkah nyata untuk pemulangan Rohingya ke Negara perbatasan Rakhine pada November.

“Rohingya tidak hanya menghadapi kekerasan yang mengerikan di tangan pasukan keamanan tanpa akuntabilitas pada 2016 dan 2017, mereka juga telah mengalami diskriminasi dan penganiayaan sistematis selama puluhan tahun di Myanmar,” ujar Lee, mendesak baik Bangladesh maupun Myanmar untuk membatalkan repatriasi. dilaporkan Anadolu Agency, Rabu (7/11/2018).

“Saya mendesak Pemerintah Bangladesh dan Myanmar untuk menghentikan rencana pemulangan ini, untuk menjamin perlindungan para pengungsi Rohingya, untuk mematuhi kewajiban hukum hak asasi manusia dan pengungsi internasional mereka dan memastikan setiap pemulangan berjalan aman, berkelanjutan, sukarela dan bermartabat,” tambahnya.

Penganiayaan Rohingya

Rohingya, yang digambarkan oleh PBB sebagai kelompok yang paling teraniaya di dunia, menghadapi ketakutan yang terus meningkat sejak puluhan orang terbunuh dalam kekerasan komunal pada tahun 2012.

Menurut Badan Pembangunan Internasional Ontario (OIDA), sejak 25 Agustus 2017, lebih dari 24.000 Muslim Rohingya dibunuh oleh tentara Myanmar.

Lebih dari 34.000 orang Rohingya juga dibakar, sementara lebih dari 114.000 lainnya dipukuli, menurut laporan OIDA yang berjudul ‘Migrasi Paksa Rohingya: Pengalaman yang Tak Terkira’.

Sekitar 18.000 perempuan Rohingya diperkosa oleh tentara dan polisi Myanmar dan lebih dari 115.000 rumah Rohingya dibakar sementara 113.000 lainnya dirusak.

Menurut Amnesty International, lebih dari 750.000 pengungsi, sebagian besar anak-anak dan perempuan, telah melarikan diri dari Myanmar dan menyeberang ke Bangladesh setelah pasukan Myanmar melancarkan tindakan kekerasan terhadap komunitas Muslim minoritas pada Agustus 2017

PBB mendokumentasikan perkosaan massal, pembunuhan – termasuk bayi dan anak kecil – pemukulan brutal, dan penculikan yang dilakukan oleh personil keamanan. (AA)

Loading...