Penanaman Pendidikan Karakter Melalui Menulis Cerita Fantasi

4 Dampak Negatif Juicing Diet yang Perlu Anda Tahu
Ilustrasi
    Bagikan:

Oleh : Kiki Nurlaily *)

Pendidikan karakter merupakan suatau sistem pendidikan yang memiliki tujuan untuk membentuk, melatih dan menanamkan nilai-nilai karakter yang harus dimiliki oleh anak.

Pendidikan karakter tidak hanya memberikan pengenalan mengenai karakter baik dan buruk saja tetapi lebih bagaimana anak dapat memahami, menghayati dan mengamalkannya.

Penanaman pendidikan karakter merupakan suatu hal yang harus dilakukan seperti saat ini, agar setiap anak memiliki karakter dalam dirinya.

Zaman modern seperti saat ini yang semakin mudahnya informasi untuk diakses peran pendidikan karakter memerlukan perhatian yang khusus.

Hal ini dilakukan dalam rangka mempersiapkan generasi yang memiliki kualitas yang baik dan menjunjung nilai-nilai luhur bangsa Indonesia.

Pendidikan karakter ini perlu diberikan untuk membentuk pribadi generasi penerus bangsa yang sesuai dengan identitas bangsanya.

Pendidikan karakter bukanlah suatu ilmu yang simple dan praktis sehingga mudah saja untuk ditanamkan pada seorang individu secara tiba-tiba.

Pendidikan karakter ini memerlukan sebuah proses yang cukup panjang untuk ditanamkan pada diri seseorang. Proses terbaik dimulainya pemberian pendidikan karakter yaitu sejak anak masih berusia dini.

Apabila masa tersebut terlewatkan maka akan semakin sulit untuk menanamkan pendidikan karakter pada seorang anak, karena pada usia dini merupakan masa keemasan seorang anak. Dapat diyakini nilai-nilai karakter akan tertanam kuat di dalam diri dan pikiran seorang anak.

Salah satu cara yang dapat digunakan untuk menanamkan pendidikan karakter pada seorang anak yaitu dapat menggunakan cara menulis cerita fantasi.

Ketika anak menuliskan sebuah cerita fantasi tentunya anak harus memberikan karakter-karakter pada setiap tokoh yang ingin ia ceritakan, nah dari tahapan tersebut anak akan belajar mengenai apa saja karakter itu, diantaranya ada katakter positif dan juga karakter negatif.

Kegiatan tersebut selain bertujuan untuk memberikan pelajaran pada anak mengenai pendidikan karakter, namun juga dapat melatih keterampilan anak dalam hal menulis sebuah cerita fantasi.

Kegiatan tersebut sangat cocok untuk melatih keterampilan menulis pada seorang anak, dikarenakan minat anak untuk menulis sebuah cerita apalagi sebuah cerita fantasi sudah mulai sulit ditemukan.

Banyak anak di Indonesia yang masih kurang memiliki minat untuk memiliki kemampuan dalam hal menulis. Bahkan dalam hal membaca pun minat anak-anak di Indonesia masih tergolong sangatlah rendah.

Program for International Student Assessment (PISA) menunjukkan bahwa keterampilan membaca anak-anak Indonesia usia 15 tahun ke atas berada pada urutan ke 39 dari 41 negara yang diteliti.

Betapa pentingnya permasalahan tersebut untuk dipecahkan dan besarnya dampak bagi pengembangan mutu pendidikan, pemerintah secara khusus melakukan pengaturan melalui PP No. 19 Th 25 Pasal 26 Ayat 3 disebutkan bahawa “Kompetensi Kelulusan untuk Mata Pelajaran Bahasa menekankan pada kemampuan membaca dan menulis sesuai dengan jenjang pendidikan”. Berdasarkan PP tersebut terlihat sangat pentingnya anak memiliki kemampuan keterampilan menulis.

Kemudian pada pasal 21 Ayat 2 diatur pula bahwa “Perencanaan Proses Pembelajaran dilakukan dengan mengembangkan budaya membaca dan menulis”.

Pada zaman modern seperti saat ini menulis sebuah cerita merupakan sebuah tantangan apa lagi menuliskan sebuah cerita fantasi yang dianggap cukup sulit untuk menemukan idenya karena harus berangan-angan dan berimajinasi, hal tersebut yang menyebabkan anak semakin malas untuk menulis sebuah cerita fantasi, sehingga menulis sebuah cerita saat ini menghadapi tantangan berat untuk dapat tetap berkembang di masyarakat, serta beberapa tantangan lainnya yaitu berhubungan dengan pengetahuan, minat dan ide yang dimiliki oleh setiap individu.

Selain itu dengan perkembangan zaman dari segi teknologinya yang semakin maju dapat mengakibatkan anak lebih gemar untuk membaca dari pada menulis, terutama membaca untuk tulisan-tulisan yang berada di media massa.

Melalui kegiatan penanaman pendidikan karakter pada anak dengan menulis cerita fantasi dapat memberikan wawasan pada anak yang baik dan mana yang buruk.

Nilai-nilai karakter yang perlu untuk ditanamkan yaitu yang pertama etika, sopan santun, nilai-nilai kehidupan, misalnya saja sikap jujur, baik, rendah hati, tolong menolong dsb.

Saat menulis orang tua harus tetap mengawasi dan memeriksa tulisan si anak agar dapat diketahui apakah si anak sudah memahami apa saja karakter yang harus diketahuinya.

Tentu saja pada kehidupan nyata anak banyak sekali menjumpai karakter-karakter yang berbeda-beda, entah dari keluarga ataupun teman sepergaulannya yang berada disekitarnya.

Tentu saja penulisan cerita fatasi tersebut harus disesuaikan dengan usia mereka saat itu agar karya yang telah mereka buat dapat dibaca oleh teman-teman seusianya yang lain.

Banyak ahli menyebutkan agar lebih membatasi anak untuk menulis cerita dengan watak-watak yang bersifat negatif seperti jahat atau kasar dll.

Kedua nilai yang harus ditanamkan yaitu kepeduliannya terhadap lingkungan sekitar dan kecintaannya terhadap tanah air. Hal ini didapatkan dari nilai-nilai luhur dan nasehat yang terkandung dalam cerita yang disampaikan.

Yang ketiga, selain dapat menumbuhkan karakter pada seorang individu juga dapat membantu mengajar anak untuk mengembangkan daya imajinasi yang dimiliki.

Melalui imajinasi anak dapat berpikir secara kreatif dan inovatif sehingga dapat menuliskan cerita fantasi yang baik dan benar. Saat menulis tentu saja anak akan berimajinasi dan berangan-angan untuk membuat sebuah cerita yang bagus dan memiliki nilai karakter dalam setiap tokohnya.

Keempat dapat membantu menumbuhkan kecintaan menulis cerita fantasi kepada anak. Agar tulisan anak menjadi menarik dan pesan cerita yang dituliskan dapat disampaikan dengan baik, menulis cerita fantasi dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya dengan anak disuruh untuk membaca beberapa contoh-contoh cerita fantasi sebelum menulis agar anak dapat memiliki gambaran sebelum menuliskan cerita fantasinya sendiri sehingga lebih anak lebih mudah untuk menulis.

Dengan menganggap menulis cerita fantasi itu mudah maka anak akan menjadi lebih gemar menulis.(*)

*Pengirim : Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Malang

“Redaksi PortalMadura.Com menerima tulisan opini, artikel dan tulisan lainnya yang sifatnya memberi sumbangan pemikiran pada kemajuan negeri ini. Dan semua isi tulisan diluar tanggung jawab Redaksi PortalMadura.Com.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.