Perjuangan 10 November 1947 di Giligenting Sumenep

Perjuangan 10 November 1947 di Giligenting Sumenep
Google Maps

Kapten Moh. Hasan Trunojoyo dari Biro Perjuangan yang sebelumya menjadi guru [berasal dari Kebondadap], adalah pejuang yang ikut mempertahankan Pamekasan dan Sumenep. Karena selalu diintai Belanda untuk ditangkap, maka dirinya mundur dari Kebondadap menuju Giligenting dengan bersenjatakan lengkap.

Mengingat Sumenep sudah tidak mungkin untuk dipertahankan, maka melanjutkan perjuangannya ke Banyuangi dan gugur di sana. Di lain pihak ada yang menceritakan, bahwa Moh. Hasan Trunojoyo hijrah ke Jawa dengan perahu jukung kateran [jukung katir]. Mula-mula menuju Giligenting, dan bermalam selama dua hari di rumah H. Mohtar Aenganyar. Ia pun diantarkan oleh H. Mohtar ke Banyuwangi. Dari Banyuwangi, Moh. Hasan Trunojoyo melanjutkan perjalanannya menuju Yogyakarta. Sayangnya, sampai saat ini tidak diketahui nasibnya.

Kurang lebih dua bulan Brigade Mobile yang berkedudukan di Saronggi [Sumenep] dipimpin oleh Siwar Ronowijoyo dengan anggota sebanyak tujuh orang ditugaskan berangkat ke Giligenting, bermarkas di Gedugan. Dengan adanya informasi bahwa Abd. Muhni telah gugur, maka Siwar Ronowijoyo dengan lima orang anggotanya mengadakan patroli dengan naik kuda.

Setibanya di Tanjung Korèpan, kudanya tidak mau naik ke atas bukit karena ketakutan. Dan terdengar tembakan secara beruntun, dengan cepat pasukan pejuang mencari perlindungan di celah-celah batu. Setelah diamati ternyata ada patroli Belanda dengan bersenjatakan lengkap melakukan penembakan, dan tembakannya mengenai seekor sapi. Masyarakat setempat bertanya tentang suara tembakan, dan untuk menghilangkan kekhawatiran mereka, maka dijawab bahwa ada pemburu menembak burung.

Berselang satu bulan, mendengar berita bahwa di Tanjung Korèpan pada jarak 2 kilometer dari markas Pejuang selalu ada kapal kecil berpatroli di laut, seperti yang terjadi pada masa sebelumnya sambil menembak ke arah daratan. Karena jumlah pasukan yang ada di pulau Giligenting tidak memungkinkan untuk menyambut kedatangan pasukan Belanda, maka pasukan para Pejuang ditarik lagi ke Saronggi.

Satu pekan kemudian ada kapal besar bercerobong dua sedang berlabuh dengan menurunkan jangkarnya sekitar 10 mil dari pantai. Peristiwa itu oleh pejuang yang standby di sana dilaporkan pada pimpinan yang ada di Pusat Komando. [**]

*Penulis adalah Ketua Tim Ahli Cagar Budaya Sumenep, Tadjul Arifin R

“Redaksi PortalMadura.Com menerima tulisan opini, artikel dan tulisan lainnya yang sifatnya memberi sumbangan pemikiran untuk kemajuan negeri ini. Dan semua isi tulisan di luar tanggung jawab Redaksi PortalMadura.Com”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses