oleh

Pertahankan Adat Istiadat Madura

Yulita Betrika Sari. Wanita cantik kelahiran Sumenep, 12 Juli 1991 ini patut diajungi jempol. Di era globalisasi saat ini, mampu mempertahankan adat istiadat Madura, baik dilingkungan keluarga maupun dengan masyarakat sekitar.

Lita, biasa disapa, mengaku tetap berusaha mempertahankan budaya lokal Madura yang dinilai positif. Bahkan, ia yang hobby nyanyi merasa senang dan bangga menjadi orang Madura, karena masyarakat Madura tergolong kuat dalam melestarikan budaya yang baik.

Masyarakat Madura, khususnya kaum perempuan, kata Lita, saat ini sudah mulai gemar mengikuti tren dunia mode, tetapi tetap sopan dan tidak melanggar nilai-nilai agama.

“Di masing-masing kabupaten di Madura kan sudah ada hijabers. Ini sangat membanggakan wanita muslim,” ujar Lita yang suka warna pink.

Wanita yang pernah menjadi juara Tartil Al Qur’an se Madura tahun 2003 ini berharap, wanita Madura tidak meninggalkan budaya atau adat istiadat Madura yang menempatkan wanita pada kodratnya dan terhormat.

“Di era saat ini, memang cukup ekstra keras untuk membendung budaya yang tidak sejalan dengan budaya Madura. Namun, bila tetap berpijak pada ajaran agama, maka tidak akan tergelincir,” ujar Lita sambil mengakhiri perbincangannya dengan PortalMadura di Rumahnya, Jalan KH. Mansyur GG Buntu, Pabian Sumenep.(irul/htn)


Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.