oleh

Resah Tagihan Listrik, Rumah Gubuk Meteran Malah Kode R1 M

Oleh : Sulimah*

Suami saya seorang karyawan, beliau bekerja di perusahaan Haleyora yang merupakan anak cabang dari PLN persero sebagai seorang Cater (Catat Meter). Suka-duka beliau alami saat bekerja, berkeliling dari rumah yang satu ke rumah yang lain untuk mencatat meteran listrik sebagai bahan tagihan listrik bulan berikutnya.

iklan pilbup

Awal bulan beliau menagih bayaran listrik ke desa-desa pelosok untuk menagih tagihan listrik. Di sinilah suka-duka suami dalam melakukan tugasnya. Suka, saat orang yang ditagih tidak ngeyel dan cepat membayar. Duka, saat orang yang ditagih hidupnya susah, yang untuk biaya makan saja kesulitan apalagi membayar tagihan listrik.

Suatu hari suami saya menceritakan pengalamannya, “Kasihan rumahnya gubuk, orangnya sudah sepuh tapi tagihan listriknya masuk R1 M (Rumah tangga Mampu),” kata beliau.

Padahal, faktanya rumah orang tersebut tidak mewah (tidak mampu) apalagi besar, hidup pemiliknya pun sebatang kara, anak-anaknya berada non jauh di seberang pulau. Saat ditanya kok bisa meterannya masuk R1 M beliau menjawab tidak tahu-menahu.

Cerita beliau pun berlanjut pada dua orang nenek renta yang tagihan listriknya sebesar Rp 93.000,- tapi uang yang ada hanya Rp 60.000,- itu pun sudah keseluruhan dari uang yang dia punya, seluruh dompet yang biasa untuk menyimpan uang sudah dia keluarkan tapi itulah keseluruhan uangnya.

Di sinilah beliau sebagai seorang petugas Cater menangis. Terjadi peperangan dalam batinnya antara melaksanakan tugas dan nurani yang tidak bisa dibohongi bahwa listrik ini seharusnya memang hak warga negara yang harusnya diberikan gratis sebagai fasilitas negara pada rakyatnya.

Ya, inilah realita hidup di negara berpaham kapitalis, hidup di negeri ini terasa menyedihkan dan menyakitkan bagi mereka yang tak punya. Fasilitas yang harusnya mereka terima dengan gratis harus mereka bayar rutin tiap bulan dengan cucuran keringat dan air mata, bahkan berdarah-darah.

Mereka rakyat kecil hanya mampu berharap pada Sang Pencipta melalui doa dan usaha, berharap penguasa negeri agar mau melihat penderitaan, kesulitan, dan keluh kesah mereka.

Memang selama pandemi Covid-19 ini, dari bulan April sampai Juli, pemerintah menggratiskan tagihan listrik. Kebijakan ini diperpanjang lagi sampai bulan September 2020 tapi kebijakan gratis ini hanya berlaku pada tarif listrik R1 450VA, dan tarif R1 900VA gratis 50% saja sedangkan bagi tarif listrik R1 M tidak gratis, tagihan berjalan normal seperti biasa.

Seharusnya listrik merupakan fasilitas gratis untuk seluruh rakyat. Baik golongan bawah atau pun golongan atas, mampu atau pun tidak mampu. Akan tetapi, fakta di lapangan listrik menjadi salah satu iuran yang wajib dibayar tiap bulan oleh seluruh rakyat.

Dalam pandangan Islam, listrik merupakan kepemilikan umum yang wajib dikuasai dan dikelola oleh negara untuk kepentingan rakyat. Karena listrik merupakan kebutuhan pokok rakyat dan merupakan bentuk pelayanan masyarakat yang wajib dilakukan oleh negara.

Oleh karena itu, negara tidak boleh menyerahkan penguasaan dan pengelolaan listrik pada swasta sebagaimana negara juga tidak boleh menyerahkan penguasaan dan pengelolaan bahan baku pembangkit listrik kepada swasta. Hal ini karena listrik dan bahan tambang yang jumlahnya sangat besar adalah milik umum yang tidak boleh dikuasai oleh swasta maupun individu.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Kaum muslimin berserikat dalam tiga hal, yaitu air, padang rumput dan api” (HR. Abu Daud).

Api di sini maksudnya adalah energi berupa listrik, yang juga termasuk dalam kepemilikan umum yang sangat besar.

Jadi, memang sudah seharusnya listrik itu gratis bukan karena kemurah-hatian pemerintah melainkan karena memang sudah jadi kewajiban pemerintah. Dan ini hanya bisa kita jalani dan dinikmati saat Islam diterapkan secara kafah. Sehingga karyawan seperti suami saya tidak akan resah lagi karena harus menagih tagihan listrik dengan mengorbankan perasaan. Wallahu’alam bisshowab.(**)

*Pengirim : Ibu rumah tangga dan aktivis Muslimah Peduli Generasi Madura yang beralamat di Pamekasan, Madura. Sulimah memiliki nama pena Ima Khusi.

“Redaksi PortalMadura.Com menerima tulisan opini, artikel dan tulisan lainnya yang sifatnya memberi sumbangan pemikiran untuk kemajuan negeri ini. Dan semua isi tulisan di luar tanggung jawab Redaksi PortalMadura.Com.”

.
.
Tirto.ID
Loading...

Komentar