Rupiah Kian Tertekan di Rp17.870, Bank Indonesia dan Pemerintah Perkuat Intervensi Multi-Lapis

Avatar of PortalMadura.com
Rupiah Kian Tertekan di Rp17.870, Bank Indonesia dan Pemerintah Perkuat Intervensi Multi-Lapis
Rupiah Kian Tertekan di Rp17.870, Bank Indonesia dan Pemerintah Perkuat Intervensi Multi-Lapis

PortalMadura.com – Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) kembali mengalami tekanan signifikan, mencapai level Rp17.870 per dolar AS pada Kamis pagi, 28 Mei 2026, setelah sempat menyentuh Rp17.876.

Pelemahan ini memicu respons tegas dari Bank Indonesia (BI) dan pemerintah yang memastikan akan terus mengintensifkan intervensi pasar untuk menjaga stabilitas mata uang Garuda.

Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus melakukan intervensi di pasar keuangan domestik dan luar negeri, sebuah langkah yang disebut sebagai “intervensi cerdas” untuk membendung depresiasi lebih lanjut.

Gubernur BI Perry Warjiyo pada 5 Mei 2026 mengumumkan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah secara resmi menyetujui tujuh strategi utama Bank Indonesia untuk menstabilkan Rupiah.

Strategi pertama melibatkan penguatan intervensi di pasar valuta asing, baik di dalam negeri maupun di pasar luar negeri, melalui transaksi spot, domestic non-deliverable forwards (DNDF), dan pasar offshore.

Perry Warjiyo meyakinkan bahwa cadangan devisa Indonesia, yang mencapai USD148,2 miliar pada Maret 2026, lebih dari cukup untuk mendukung upaya stabilisasi Rupiah.

Faktor eksternal yang mendorong pelemahan Rupiah termasuk eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan ekspektasi bahwa bank sentral AS (The Fed) akan mempertahankan suku bunga tinggi, yang memperkuat dolar AS dan memicu arus modal keluar.

Harga minyak dunia yang meningkat juga menambah tekanan, mengingat Indonesia adalah importir minyak bersih, yang berarti biaya impor menjadi lebih tinggi.

Secara internal, Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, mengidentifikasi beberapa penyebab, termasuk tingginya permintaan dolar untuk impor minyak, pembayaran dividen, pergeseran tabungan ke mata uang asing, dan jatuh tempo utang sebesar Rp600 triliun.

Ibrahim juga menyoroti masalah tata kelola pada program seperti Koperasi Desa Merah Putih dan program makan bergizi gratis, yang disebutnya memicu keluarnya modal asing.

Meskipun neraca perdagangan Indonesia masih surplus, surplus tersebut mengalami penurunan dibandingkan periode sebelumnya, menunjukkan bahwa meskipun ekspor masih melampaui impor, selisihnya semakin menyempit.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa pada 28 Mei 2026 menyatakan bahwa pelemahan Rupiah saat ini “tidak masuk akal” dan “tidak semestinya” terjadi mengingat fundamental ekonomi Indonesia yang masih baik.

Purbaya memastikan pemerintah tidak akan tinggal diam dan sedang menyiapkan langkah-langkah baru yang signifikan untuk membantu penguatan Rupiah.

Pemerintah telah melakukan langkah stabilisasi di pasar obligasi melalui pembelian kembali surat utang pemerintah (SBN) untuk menjaga yield tetap terkendali, sebuah strategi yang dinilai berhasil menjaga kepercayaan investor.

Bank Indonesia juga berkoordinasi erat dengan Kementerian Keuangan untuk menarik modal masuk melalui instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan telah membeli SBN senilai Rp123,1 triliun di pasar sekunder sepanjang tahun ini.

Untuk mengendalikan spekulasi dan penimbunan mata uang asing, BI telah mengetatkan batas pembelian dolar AS di pasar domestik, menurunkan plafon bulanan dari USD100.000 menjadi USD50.000 per orang.

BI juga tengah bersiap untuk menurunkan batas ini lebih lanjut menjadi USD25.000, di mana setiap pembelian dolar di atas jumlah tersebut akan memerlukan bukti aset dasar yang mendasari.

Strategi lain termasuk memungkinkan bank domestik untuk menjual offshore non-deliverable forwards (NDF) guna meningkatkan pasokan valuta asing dan memperkuat kontrol risiko sistemik.

Profesor Eddy Junarsin dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM menjelaskan bahwa meskipun pelemahan Rupiah dapat membuat produk ekspor Indonesia lebih kompetitif, hal ini juga merugikan industri yang sangat bergantung pada impor, seperti energi dan bahan baku.

Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate pada 4,75% pada Januari 2026, dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi 4,9% hingga 5,7% di tahun 2026, sambil menjaga target inflasi pada 2,5% plus minus satu persen.

Prediksi dari Fitch Solutions (BMI) pada Januari 2026 menunjukkan bahwa Rupiah kemungkinan akan melemah lebih lanjut menjadi Rp17.500 per dolar AS pada akhir tahun 2026, didorong oleh pertumbuhan ekspor yang melambat dan kekhawatiran investor.

Namun, pemerintah tetap optimistis bahwa penguatan Rupiah masih mungkin terjadi jika sentimen pasar membaik dan kebijakan stabilisasi diterapkan secara lebih agresif.

Purbaya bahkan menyebutkan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 telah mensimulasikan skenario Rupiah menyentuh Rp17.800 per dolar AS, mengindikasikan kesiapan pemerintah.

Keseluruhan, Bank Indonesia dan pemerintah Indonesia menunjukkan respons proaktif dan terkoordinasi untuk mengatasi tekanan pada Rupiah di tengah tantangan global dan domestik yang berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses