Transformasi Zaman: Mampukah Tradisi Lokal & Agama untuk Bertahan dan Berkontribusi?

Transformasi Zaman: Mampukah Tradisi Lokal & Agama untuk Bertahan dan Berkontribusi?
dok. Karapan Sapi Madura (FB DejaVu)

Oleh: Dzulkarnain Jamil*

Para pemikir besar berdialektika dalam rangka menciptakan kesejahteraan di tengah transformasi zaman. Cepatnya perubahan yang terjadi sekilas mengagumkan namun dibalik itu juga membuat banyak perdebatan. Hal itulah yang menyebabkan dunia memberikan respon yang berbeda. Ada yang memanfaatkan untuk memudahkan menjalani kehidupan, juga yang menjadikannya sebagai alat baru untuk melakukan eksploitasi besar-besaran dan saling menguasai satu sama lain.

Seperti halnya perubahan pada pola komunikasi dari yang semula analog menjadi dunia digital. Mulai dari surat menyurat yang menyampaikan pesan membutuhkan waktu relatif lama menjadi chating yang membutuhkan waktu bahkan tidak sampai satu menit. Fenomena media sosial akhirnya juga menjadi tak terkendalikan. Derasnya arus informasi sudah tidak mampu dibendung, akhirnya menyebabkan kebenarannya tak lagi dapat dipercaya. Manusia semakin memiliki ekspetasi tinggi bagi dirinya dan kehidupan yang dijalankan.

Maka dalam hal ini masyarakat di seluruh dunia mau ataupun tidak akan bersanding langsung dan memiliki kewajiban untuk berdampingan dengan segala kondisi serta situasi yang ada. Ketidak mampuan dan ketidak siapan itulah yang menyebabkan terjadinya kompleksitas masalah dan kendala besar lalu mengakibatkan sukarnya adaptasi dilakukan. Baik dalam ranah ekonomi, politik, pendidikan, kebudayaan bahkan agama.

Awal mula munculnya perkembangan ini dilatar belakangi oleh keberhasilan sains mencapai titik puncaknya. Agama yang semula menjadi pedoman dan rujukan di eropa sebelum abad ke-14. Akhirnya beralih pada sains dalam mencari kebenaran. Maka dikenal renaissance sebagai babak baru yang mencerahkan.

Dilanjutkan dengan Revolusi Industri 1.0 merupakan revolusi di bidang industri yang pertama kali terjadi pada abad ke-18 antara tahun 1750 dan 1850 di Inggris. Revolusi ini ditandai dengan penemuan mesin uap, yang digunakan dalam proses produksi benda. Lalu kemunculan revolusi industri 2.0 terjadi di awal abad ke-20 yang dikenal dengan revolusi teknologi.

Revolusi industri yang terjadi ini ditandai dengan adanya penemuan tenaga listrik yang membuat mesin uap yang tadinya sering digunakan dalam proses produksi semakin lama digantikan dengan adanya tenaga listrik tersebut. Selanjutnya revolusi industri 3.0 yang terjadi pada akhir abad ke-20 ditandai dengan adanya teknologi digital serta internet.

Berdasarkan sosiolog Inggris yaitu David Harvey yang mengemukakan cara pandangnya mengenai revolusi industri yang terjadi di masa ini sebagai sebuah proses pemampatan ruang dan waktu yang semakin terkompresi. Dilanjutkan dengan revolusi industri 4.0 yang terjadi pada awal abad ke-21 merupakan sebuah revolusi dimana manusia telah menemukan pola baru dengan adanya kemajuan teknologi yang terjadi begitu cepat sehingga mengancam berbagai perusahaan yang lebih konvensional. terakhir perkembangannya hari ini sudah mencapai Society 5.0 di Jepang.

Agama yang semula menjadi panglima otoritas pengetahuan oleh masyarakat modern diubah dan dianggap bukan lagi menjadi kebutuhan hidup di dunia, melainkan hanya pelengkap yang keberadaannya di nomor duakan. Hal ini dibenarkan keberadaannya oleh August Comte yang melihat perubahan sebagai suatu proses evolusi yang bersumber pada proses perubahan secara bertahap dari daya pemikiran masyarakat itu sendiri, atau disebut juga dengan evolusi intelektual.

Menurut Comte, dalam kehidupan suatu masyarakat, banyak unsur-unsur kehidupan yang mengalami perubahan secara evolusi. Secara lebih jelas August Comte mengemukakan adanya tiga tahapan perkembangan intelektual manusia, yang juga berkaitan dengan tahap kehidupan sosial ekonomi masyarakat secara umum. Tahap pertama adalah tahap theologis primitif. Tahap kedua, metafisik transisional, dan Tahap ketiga tahap positif rasional.

Dalam tahap teologis, menurut Comte, pemikiran manusia langsung dikaitkan dengan hal-hal yang supernatural, atau yang alamiah. Semua gejala yang terjadi dianggap sebagai hasil dari tindakan langsung dari hal-hal yang super natural itu. Dalam tahap metafisik, yang merupakan perkembangan selangkah dari tahap teologis, akal budi manusia tidak lagi mengaitkan langsung setiap gejala dengan hal-hal super natural, melainkan pada hal-hal yang benar-benar nyata melekat pada semua benda.

Dalam tahap ini hal-hal yang abstrak dipersonifikasikan melalui benda-benda nyata, yang mampu menghasilkan gejala-gejala yang berpengaruh pada kehidupan masyarakat. Tahap positif itu sendiri ditandai oleh kepercayaan akan data empiris sebagai sumber pengetahuan terakhir. Tahap positif adalah tahap yang paling sempurna dibanding dua tahap sebelumnya yang dikemukakan oleh Comte. Sesuatu kejadian atau perubahan yang terjadi, selalu dikaitkan dengan faktor lain. Inilah puncak keberhasilan pemikiran manusia menurut pemikir barat.

Maka dampaknya adalah tradisi lokal yang terdapat di sejumlah daerah. Hari ini keberadaannya hanya dicerca, dan dimaki oleh para manusia yang mengaku modern. Sebab katanya tidak lagi diperlukan di zaman modern ini. Seperti contohnya karapan sapi yang menjadi tradisi orang Madura.

Orang modern memandang hal tersebut sebagai eksploitasi binatang, dan melakukan penyiksaan serta tidak memiliki manfaat. Padahal lebih dari itu Tradisi Karapan Sapi merupakan lomba pacuan sapi yang digelar setiap tahun. Tradisi ini memiliki makna penting bagi masyarakat Madura. Tradisi Karapan Sapi ini diadakan sebagai bentuk perwujudan rasa syukur warga atas suburnya tanah yang dulunya tandus. Masyarakat yang seperti ini hari ini digolongkan dengan masyarakat primitif oleh orang yang mengaku modern.

Nampaknya masyarakat modern merasa maju padahal sebaliknya yaitu kering kerontang dan tidak memiliki makna. Mereka hanya melihat yang tampak diluar tanpa memperdulikan esensi dari suatu kebiasaan. Materialisme yang berkembang di masyarakat modern menjadikannya kabur dan sukar untuk memahami keindahan. Segala tolak ukur yang digunakannya hanya pada kebendaan dan penghasilan semata.

Akhirnya yang terjadi pertikaian yang memperebutkan kebenaran masing-masing. Kalang kabut kondisi ini membuat perubahan tidak stabil. Segala kepentingan hanya diarahkan pada ekonomi dan politik yang tidak dilandasi dengan persatuan dan keadilan.

Kebudayaan yang luhur telah berlansung selama berabad-abad lamanya dikesampingkan. Merasa cerdas atas fasilitas yang tersedia tanpa pernah mempertimbangkan segala kemungkinan yang mungkin terjadi karena kecerobohannya sendiri. Misalnya peneliti mengemukakan Indonesia disebut sebagai salah satu negara Mega Biodiversity yang dikaruniai dengan keanekaragaman hayati. Mempunyai 47 jenis ekosistem dimana 17 persen spesises flora fauna dari seluruh dunia Tidak hanya itu, Indonesia juga memiliki lebih dari 10 persen jasad renik dari seluruh dunia serta 940 jenis tanaman obat tradisional.

Meskipun Indonesia merupakan negara dengan kawasan hutan terluas ke 8 di dunia dengan kawasan hutan seluas 120,6 juta hektare, atau sekitar 63 persen dari luas semua daratan Indonesia, deforestasi hutan Indonesia menduduki peringkat tertinggi ketiga di dunia pada tahun 2018. Sejak tahun 2015 sekitar 30 persen hutan konservasi rusak akibat perambahan hutan oleh pengembang dalam rangka meraih keuntungan dalam bidang perekonomian.

Peneliti menyebutkan bahwa luasan padang lamun di kawasan perlindungan laut Indonesia masih terancam, rata-rata dari 58 persen menjadi 48 persen pada tahun 2016, dan 61 persen menjadi 55 persen pada tahun 2017. Hal ini dikarenakan faktor dari aktivitas pengembang yaitu reklamasi pantai, polusi minyak, penambangan pasir dan karang, kualitas air yang buruk serta pencemaran sampah.

Oleh sebab itu design kebudayaan telah memberikan alternatif yang cemerlang dan briliant untuk menciptakan masyarakat madani. Penguatan religiusitas, spritual, akhlak dan moral untuk mendidik manusia menjadi sempurna tidak boleh dihilangkan dari masyarakat dalam kehidupan menjaga kesinambungan hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan alam, manusia dengan manusia lain harus terus menerus dijaga.

Hal tersebut tentu dengan menggunakan teknologi, dan ilmu pengetahuan sebagai alat bukannya memperalat kita. Masyarakat yang bersaudara telah lama menjadi tradisi di pedesaan. Individualis dan hidup masing-masing adalah hal yang paling dimuliakan oleh masyarakat yang mengaku modern ini justru menimbulkan banyak kerusakan.(**)

*Penulis : Mahasiswa Magister Ilmu sosial Universitas Brawijaya, Anggota World Youth Association

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.