oleh

Umat Muslim Sejati Itu Berkata Baik atau Pilih Diam

PortalMadura.Com – Hampir setiap orang tidak mau jika dibohongi. Oleh sebab itu, sangat tepat jika Islam memasukkan urusan berbicara sebagai bagian dari ajaran yang perlu umat Muslim perhatikan dan amalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Meskipun perintah ini tampak sederhana dan bisa dipahami, tapi tidak menutup kemungkinan jika sebagian orang justru menjadikan kebohongan sebagai jalannya mendapatkan rezeki.

Gempur Rokok Ilegal Pemkab Sumenep

BACA : Kapal Karam dan Dua Kerangka Jenazah Berhasil Dievakuasi Tim Sar Polda Jatim

Bahkan, karena potensi ini bisa menghantam siapa saja, awam sampai alim, rakyat hingga pejabat, dan pekerja takat pengusaha, Umar bin Khathab pun mewanti-wanti umat Islam.

“Sesuatu yang paling aku khawatirkan dari kalian adalah munafiq alim (yang berpengetahuan)”. Kemudian ditanyakan, “Bagaimana mungkin munafik memiliki sifat alim?”. Umar menjawab, “Ia berbicara dengan penuh hikmah namun melakukan kezaliman atau kemungkaran”.

Dengan demikian, penting bagi setiap Muslim berhati-hati dalam berbicara. Jangan asal alias tanpa ilmu dan data, apalagi secara sengaja ingin memutarbalikkan fakta, mempropagandakan kebohongan agar diterima sebagai kebenaran, dan lain sebagainya. Jika itu sampai dilakukan, maka akan berdampak serius bagi kesempurnaan iman di dalam hati.

Sebab Rasulullah bersabda, “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata baik atau diam” (HR. Bukhari).

Dr. Aid Abdullah Al-Qarny dalam bukunya “Beginilah Zaman Mengajari Kita” menuliskan, “Sebenarnya kita membutuhkan latihan yang panjang untuk berbicara dengan orang lain, serta butuh pengalaman yang luas dalam menyampaikan dan memberi pengaruh”.

Hal tersebut bisa dipahami, mengingat berbicara tanpa ilmu apalagi di depan publik akan semakin memelorotkan wibawa diri. Tidak masalah jika itu dilakukan oleh orang kafir (orang yang menutup diri dari beriman kepada Allah dan Rasul-Nya). Tetapi, bagaimana jika itu adalah seorang Muslim.

Mohammad Fauzil Adhim melalui akun twitternya @kupinang mencuit, “Cara terbaik mempertontonkan kebodohan adalah membantah tanpa ilmu. Tetapi yang lebih fatal lagi apabila melecehkan tanpa data, unjuk kebolehan pada sisi yang ia paling lemah. Padahal kekuatan terbesar orang yang dibantah justru di bagian itu”.

Dengan demikian, mulailah berlatih dengan penuh komitmen untuk bertanggungjawab dengan kata-kata atau pembicaraan yang dilakukan, baik di dunia nyata maupun dunia maya. Sebab Islam merupakan sistem nilai, yang sudah semestinya difungsionalisasikan dalam kehidupan Anda sehari-hari.

Andai kata, setiap Muslim mampu menjaga lisannya, tidak berkata kecuali yang baik, tentu negeri ini akan berada dalam kesejukan. Dan, setiap upaya profokasi yang hendak memecah belah umat dan mendiskreditkan ajaran Islam, secara langsung bisa digagalkan.

Suharsono dalam bukunya “Mencerdaskan Anak” menegaskan bahwa setiap orang tua sangat perlu mencermati, apa-apa saja yang sering dikatakan oleh buah hati.

“Apakah kata-katanya cukup sopan, tidak jorok atau sekadar trendy. Anak-anak yang berpotensi sebagai anak cerdas, tidak mudah dipengaruhi hal-hal semacam itu”.

Baca Juga : Naik Motor Sambil Main HP, Ibu Muda Tewas Kecelakaan di Madura

Pertanyaannya bagaimana generasi Muslim bisa seperti itu bisa hadir, tentu saja ketika para orang tua konsen memperhatikan pembicaraan yang setiap orang melakukannya dari waktu ke waktu sepanjang hayat.

Semoga Allah menjaga lisan Anda dari berkata tidak baik, banyak bicara yang sia-sia, berujar yang provokatif dan gemar sekali memancing terjadinya pertikaian dan pertengkaran, apalagi sampai mengais rezeki dengan menjadi pembuat dan penyebar kebohongan. Na’udzubillahi min dzalik. Wallahu A’lam.

Dapatkan Berita terbaru dari kami via Telegram

Komentar