oleh

Hikmah di Balik Penciptaan Air yang Jarang Diketahui

PortalMadura.Com – Pentingnya penciptaan air dalam Islam sering disebut-sebut di dalam Alquran. Selain sebagai kebutuhan jasmani sehari-hari, air juga dijadikan sebagai sarana ibadah. Sebab, air dibutuhkan untuk bersuci sebagai salah satu syarat sebelum menunaikan salat yang merupakan ibadah pokok dalam ajaran Islam.

Dikutip dari Republika.co.id, Kamis (9/1/2020), perlu diketahui bahwa berwudu merupakan salah satu syarat sah salat yang dilakukan dengan cara membasahi atau mencuci bagian-bagian tertentu dari anggota badan dengan air bersih (suci dan menyucikan).

Perintah berwudu dan mandi junub dengan menggunakan air bersih terdapat dalam Alquran surah Al Maidah ayat 6. Yaitu: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan salat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur“.

Bahkan, di dalam Alquran banyak ayat yang membicarakan masalah air dan fungsinya di alam. Misalnya tentang asal dan penopang kehidupan, daur hidrologi, sarana transportasi, dan sebagainya. Menariknya lagi, surga dilukiskan sebagai kebun yang dialiri sungai-sungai yang jernih.

Dijelaskan dalam Alquran, bahwa Allah pernah mengazab umat-umat terdahulu yang ingkar dan melampaui batas dengan air sehingga menimbulkan kerusakan di muka bumi, antara lain umat Nabi Nuh, Fir’aun, kaum Saba’, dan umat-umat lainnya. Ayat-ayat tersebut mengisyaratkan bahwa air merupakan barang yang penting dan diperlukan, tetapi juga dapat menjadi sumber masalah dan bencana.

Terdapat lebih dari 200 ayat di dalam Alquran yang mengandung kata air atau hal yang berhubungan dengan air, seperti hujan, sungai, laut, awan, mata air dan lain-lain. Di antara ayat-ayat itu terdapat uraian tentang proses-proses air di alam dengan ringkas tetapi sangat jelas, misalnya proses terjadinya hujan dan daur air.

Beberapa peristiwa alam yang berkaitan dengan air disebutkan dalam bentuk sumpah (qasam). Proses-proses alam yang berkaitan dengan air banyak pula dipakai sebagai kiasan dalam menggambarkan hubungan sebab suatu perbuatan (amal) dengan akibatnya yang akan diperoleh manusia baik di dunia maupun di akhirat.

Sebagaimana firman Allah: “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam surga (taman-taman) dan (di dekat) mata air-mata air (yang mengalir)“.

Keberadaan air di akhirat, peran dan pengaruhnya bagi manusia sangat tergantung pada amalan-amalan yang telah diperbuat terdahulu semasa masih di dunia. Keberadaan air di mana-mana, termasuk di surga dan neraka, mengindikasikan bahwa air tidak pernah terpisah jauh dari kehidupan manusia.

Bahkan, pada kenyataan yang Anda hadapi di dunia ini pun, air merupakan benda bermanfaat bagi manusia, acapkali menimbulkan masalah dan bencana. Secara langsung dan tidak, manfaat dan persoalan yang berkaitan dengan air pada dasarnya akibat tindakan manusia.

Sementara itu, cara Anda berperilaku sehubungan dengan air tampaknya lebih banyak diatur dalam hadis. Misalnya, permintaan seseorang yang tidak boleh ditolak, apabila persediaan cukup, adalah air, api, dan garam.

Ayahku meminta izin kepada Rasulullah, kemudian ia masuk, mencium, dan duduk bersanding dengan beliau. Lalu ia bertanya, “Wahai Rasulullah, permintaan apakah yang tidak boleh ditolak?” Beliau menjawab, “Air.” Ia bertanya lagi, “Wahai Nabi Allah, permintaan apa lagi yang tidak boleh ditolak?” Beliau menjawab, “Garam.” Ia bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, permintaan apa lagi yang tidak boleh ditolak?” Beliau menjawab, “Kebaikan yang engkau lakukan adalah baik bagimu” (Riwayat Abu Dawud dengan sanad daif dari seorang wanita yang biasa dipanggil Buhaisah).

Salah satu sedekah yang akan memberikan pahala yang mengalir adalah menggali sumur untuk umum. “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku telah meninggal dunia, lalu sedekah apakah yang lebih utama (agar pahalanya sampai kepada roh beliau)?” Rasulullah menjawab, “Air.” Kemudian Sa‘d menggali sebuah sumur, ia berkata, “Sumur ini aku persembahkan untuk Ibu Sa’d” (Riwayat Abu Dawud dari Sa’d bin Ubadah).

Kedua hadis di atas menunjukkan bahwa air memiliki peran sosial yang penting. Hadis tentang perilaku terhadap air ini umumnya mengatur hubungan antarmanusia.

Manfaat Air (Hujan)

Salah satu kebutuhan vital manusia adalah air, terutama untuk keperluan minum dan bersuci (taharah). Orang bisa bertahan hidup lebih lama tanpa makan, tetapi tidak tanpa air. Air yang disediakan melimpah di planet bumi ini pada dasarnya jumlahnya tetap, hanya saja terus bersirkulasi dengan sangat menakjubkan.

Dari laut air menguap ke udara, lalu dibawa angin ke tempat tertentu menjadi tetesan-tetesan hujan yang membasahi bumi. Sebagian untuk kebutuhan langsung tetumbuhan, hewan, dan manusia. Sebagian terserap ke dalam tanah menjadi cadangan atau persediaan air tanah. Sebagian yang lain bergerak menuju laut yang dapat dimanfaatkan berbagai jenis makhluk sepanjang perjalanannya, bahkan keperluan lebih besar. Misalnya sebagai prasarana transportasi air.

Allah berfirman dalam surah Al Sajdah ayat 27: “Dan tidakkah mereka memerhatikan, bahwa Kami mengarahkan (awan yang mengandung) air ke bumi yang tandus, lalu Kami tumbuhkan (dengan air hujan itu) tanam-tanaman sehingga hewan-hewan ternak mereka dan mereka sendiri dapat makan darinya. Maka mengapa mereka tidak memerhatikan?.

Rasulullah pun mencontohkan kepada umat Muslim untuk melakukan salat Istisqa memohon kepada Allah agar diturunkan hujan. Biasanya, hal ini terkait dengan panjangnya musim kering sehingga membahayakan kehidupan tanaman, binatang, dan manusia.

Hakikatnya, hujan turun adalah kehendak Allah, baik sedikit maupun banyak. Allah dalam Alquan berfirman: ““Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat hujan ke luar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya tiba-tiba mereka menjadi gembira. Dan sesungguhnya sebelum hujan diturunkan kepada mereka, mereka benar-benar telah berputus asa. Maka perhatikanlah bekas-bekas rahmat Allah, bagaimana Allah menghidupkan bumi yang sudah mati. Sesungguhnya (Tuhan yang berkuasa seperti) demikian benar-benar (berkuasa) menghidupkan orang-orang yang telah mati. Dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu” (QS. Ar Rum: 48-52)

Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya, Dia memperlihatkan kilat kepadamu untuk (menimbulkan) ketakutan dan harapan, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu dengan air itu dihidupkannya bumi setelah mati (kering). Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mengerti” (Ar Rum ayat 24).

Ketika Allah mencurahkan hujan dengan kemurahan-Nya, binatang-binatang itu muncul dan bergembira, bersama menghijaunya padang rumput yang sebelumnya mengering. Lebih menakjubkan lagi adalah adanya jenis ikan yang ternyata ketika tidak ada air ia masuk ke dalam bumi dan diam. Segera setelah hujan tiba, ikan-ikan tersebut keluar dari lubang persembunyiannya.

Demikian pula jenis buaya kecil yang dapat berlindung pada lubang-lubang tanah, mereka kembali pada kehidupan normal. Sedangkan buaya raksasa yang tidak menemukan lubang tempat persembunyian menjadi tulang-belulang sebelum hujan tiba. Fenomena di atas menunjukkan betapa Allah telah mengatur kehidupan binatang dengan mengatur keberadaan air atau turunnya hujan.

Manfaat utama air di muka bumi ini adalah sebagai sumber dan pemelihara kehidupan, termasuk kehidupan manusia. Banyak sekali ayat dalam Alquran yang menyatakan bahwa kehidupan (tumbuhan, hewan, dan segala kehidupan) di muka bumi terjadi dengan adanya air.

Kelebihan lainnya bagi umat manusia, air bermanfaat pula untuk kesejahteraannya melalui berbagai jenis penggunaan. Allah menciptakan air dengan sifat-sifat yang memang terukur dan bermanfaat bagi bumi dan kehidupan di atasnya.

Baca Juga : 5 Manfaat Air Putih untuk Kecantikan

Dalam Surah Al Mu’minun ayat 18 terdapat kata biqadar (sesuai ukuran) menunjukkan makna keseimbangan. Dengan begitu, air yang diciptakan Allah menurut kadar (ukuran) yang diperlukan berfungsi memenuhi kebutuhan seluruh makhluk hidup dan juga menjaga keseimbangan suhu di bumi. Air Juga digunakan untuk membantu kesejahteraan manusia sebagai sarana transportasi.

Firman Allah: “Dan Kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran; lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi, dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa menghilangkannya” (QS. Al Mu’minun : 18). Wallahu A’lam.

Rewriter : Salimah
Sumber : merdeka.com

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.