oleh

Sistem Zonasi Merampas Hak, Benarkah?

Oleh: Intan Subhana Permatasari*

Sekarang ini, terjadi pro dan kontra yang sedang hangat-hangatnya diperbincangkan dalam dunia pendidikan. Tidak lain, hal tersebut adalah sistem baru yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk kalangan pelajar yakni sistem zonasi.

Sistem zonasi merupakan sistem yang dibangun agar penerimaan calon peserta didik baru tidak hanya dilihat dari segi nilai saja. Akan tetapi, lebih menekankan pada jarak atau radius antara rumah calon peserta didik dengan sekolah.

Sebenarnya sistem zonasi ini sudah dibuat sejak tahun 2016-2017 silam, dengan membawa beberapa keunggalan yang diharapkan dapat membenahi standar nasional pendidikan di Indonesia.

Keunggulan yang dapat diperoleh dari adanya sistem zonasi yaitu, dapat meratakan kualitas pendidikan di seluruh tanah air. Sistem ini berfokus pada daerah-daerah yang belum memiliki sekolah favorit atau berkualitas.

Melalui pemerataan sekolah-sekolah favorit diberbagai daerah, dapat pula menciptakan atau melahirkan guru-guru yang favorit dengan kualitas-kualitas terbaik, bukan hanya di tempat dan sekolah tertentu saja. Akan tetapi, dengan beberapa keunggulan yang telah ditawarkan, tidak menutup kemungkinan adanya permasalahan yang ditimbulkan akibat adanya sistem zonasi.

Menurut beberapa pendapat wali murid permasalahan yang ditimbulkan oleh sistem zonasi bahkan dinilai lebih besar daripada keunggulan yang ditawarkan. Banyak orang tua murid yang mengkritisi masalah sistem zonasi.

Sistem ini dianggap merampas hak untuk memilih sekolah yang diinginkan anak, karena radius atau jarak tempuh dari rumah ke sekolah akan menjadi perhitungan awal untuk masuk ke sekolah yang diinginkan.

Jadi, secara tidak langsung adanya sistem zonasi ini memaksa anak untuk bersekolah di sekolah yang jaraknya dekat dengan rumah mereka. Sedangkan hal yang dipertimbangkan belum tentu sekolah yang berada di dekat rumah anak tersebut adalah sekolah negeri dan berkualitas.

Kemudian, karena sistem zonasi ini didasarkan pada zona wilayah, sistem ini dirasa nantinya akan menyebabkan siswa kurang bersosialisasi, karena teman-teman sekolahnya bisa jadi juga teman satu kampung halaman.

Hal ini dapat menghambat anak untuk bersosialisasi dengan lingkup yang lebih luas lagi. Tidak berhenti disini, sistem zonasi juga membawa dampak yang kurang efektif terhadap keberlangsungan pembelajaran di dalam kelas, baik dari segi peserta didiknya maupun dari segi guru sebagai pengajarnya.

Keadaan ini, nantinya akan menuntut guru-guru di sekolah negeri untuk beradaptasi dengan cepat dan tepat. Misalnya saja, guru yang terbiasa mengajar peserta didik dengan kemampuan rata-rata tinggi, kini harus mengajar peserta didik dengan rata-rata yang kurang dan kemampuan yang sangat beragam.

Menjadikan satu kesatuan dengan dasar yang sudah berbeda bukanlah hal yang mudah, apalagi bagi seorang guru untuk mendidik anak-anaknya dengan dasar kemampuan dan kecepatan pemahaman yang jauh berbeda.

Padahal, keterampilan untuk memahami suatu materi pembelajaran di dalam kelas sangatlah penting bagi peserta didik, sedangkan yang dibutuhkan oleh guru yang mengajar anak-anak berkemampuan tinggi dan rendah jelas berbeda.

Anak-anak berkemampuan tinggi membutuhkan tantangan baru dan pengayaan dari guru untuk memotivasi dan mengasah serta meningkatkan kemampuan yang dimiliki. Berbanding terbalik dengan anak-anak yang memiliki kemampuan kurang, mereka membutuhkan perhatian dan bantuan lebih dari guru untuk membangun semangat belajar dalam memahami ilmu atau materi yang disampaikan.

Menyamakan atau menyeimbangkan kecepatan pemahaman pada peserta didik memerlukan waktu yang cukup bagi seorang guru.
Perbedaan yang sangat jelas diantara keduanya ini, tidak bisa disesuaikan dalam waktu yang singkat.

iklan hari santri

Hal ini menjadikan proses pembelajaran di kelas tidak dapat berjalan efektif dan optimal serta dapat menciptakan kekagetan yang justru mengganggu atau menghambat proses pembelajaran.

Terlepas dari persoalan yang dihadapi guru, peserta didik pun nantinya juga akan mengalami tantangan akibat dari sistem zonasi yang diterapkan dalam sistem pembelajaran di kelas. Hal ini pasti akan terlihat saat pembelajaran di kelas telah berlangsung, peserta didik yang lambat dalam memahami materi pembelajaran bisa tertinggal dari teman-temannya dan menjadikan suasana kelas juga kurang nyaman.

Kemudian, siswa yang cepat dalam belajar pun juga bisa kehilangan motivasi jika tidak mendapatkan tantangan. Apabila hal seperti ini dibiarkan terus menerus terjadi maka akan berdampak pada merosotnya kualitas pendidikan tanah air. Selain itu, juga dapat mengakibatkan rendahnya kualitas generasi muda Indonesia.

Maka dari itu, untuk mencegah hal-hal buruk tersebut terjadi seorang guru harus mampu memberikan dampak positif pada pembelajaran yang akan berlangsug di dalam kelas. Mengajak peserta didik untuk mencintai pembelajaran bukan malah membiarkan peserta didik semakin benci terhadap suatu mata pelajaran tertentu.

Melihat kondisi pembelajaran yang kurang efektif di dalam kelas ini, akhirnya juga mendorong guru mau tidak mau, siap tidak siap harus bisa menyesuaikan model pembelajaran yang sesuai dengan peserta didik. Hal ini dapat dilakukan dengan mengganti model pembelajaran yang lebih menyenangkan.

Misalnya, dengan cara melibatkan teman sebaya atau biasanya disebut dengan belajar tutor sebaya. Adanya model pembelajaran ini peserta didik tidak hanya menyerap ilmu dari guru saja, tetapi peserta didik juga dapat menerima pengetahuan baru dari teman sebanyanya.

Kemudian, penggunaan handphone di dalam kelas juga tidak dibatasi ketika pembelajaran. Hal tersebut dilakukan untuk memudahkan peserta didik dalam memperoleh informasi sebanyak dan seluas-luasnya.(**)

*Penulis : Mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Universitas Muhammadiyah Malang

“Redaksi PortalMadura.Com menerima tulisan opini, artikel dan tulisan lainnya yang sifatnya memberi sumbangan pemikiran pada kemajuan negeri ini. Dan semua isi tulisan diluar tanggung jawab Redaksi PortalMadura.Com.”

Baca Juga :

Hadrah Modern Nada dan Dakwah Sumenep

.
Editor : Hartono

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.