oleh

Keutamaan Tak Keringkan Air Bekas Wudu

PortalMadura.Com – Sebelum melaksanakan salat, umat Islam diwajibkan untuk berwudu terlebih dahulu. Ibadah yang satu ini ternyata memiliki banyak keutamaan. Salah satunya air yang dipergunakan untuk bersuci atau air bekas wudu, hendaknya tidak diusap dalam kondisi tertentu usai berwudu. Lalu, bolehkah mengeringkan air bekas wudu?.

Dikutip dari laman Republika.co.id, Ahad (12/7/2020), dalam buku “Panduan Shalat An-Nisaa” karya Abdul Qadir Muhammad Manshur dijelaskan, ulama-ulama kalangan mazhab Hanafi, Maliki, dan Hanbali sepakat bahwa tidak apa-apa mengeringkan dan mengusap air dengan sapu tangan atau sepotong kain setelah wudu dan mandi.

Ibnu Mundzir meriwayatkan, dibolehkannya pengeringan dari Utsman bin Affan, Husain bin Ali, Anas bin Malik, Bisyr bin Abu Mas’ud, Hasan al-Bashri, Ibnu Sirin, Alqamah, Aswad, Masruq, Dhahhak, ats-Tsuri, dan Ishaq. Mereka yang membolehkan pengeringan ini bersandar pada hadis-hadis Rasulullah. Adapun hadits-hadis yang disandarkan adalah hadis riwayat Tirmidzi berbunyi: “Aku melihat Nabi Muhammad SAW mengusap wajah beliau dengan ujung pakaian beliau ketika berwudu”.

Hadis di atas menyebut mengeringkan air setelah wudu dibolehkan, namun kadar hadisnya daif. Sedangkan hadis lainnya riwayat Imam an- Nasa’i berbunyi: “Abu Maryam Iyas bin Ja’far meriwayatkan dari seorang sahabat bahwa Nabi Muhammad SAW memiliki sapu tangan atau sepotong kain untuk mengusap wajah beliau ketika berwudu”.

Hadis ini memiliki kadar hadis yang sahih. Adapun kemakruhan mengeringkan air dalam wudu (bukan dalam mandi) diriwayatkan Ibnu Abbas. Sedangkan Jabir bin Abdullah meriwayatkan larangan untuk mengeringkan air bekas wudu.

Kemakruhan mengeringkan air didasarkan pada argumentasi-argumentasi beragam. Pertama, air wudu akan ditimbang pada hari kiamat sehingga dimakruhkan menghilangkannya dengan pengeringan. Hal ini juga disandarkan pada hadis yang diriwayatkan az-Zuhri.

Baca Juga: 3 Hikmah Jaga Wudu Sepanjang Hari

Namun, Abdul Qadir Muhammad Manshur berpendapat, yang dimaksud air yang digunakan dalam wudu akan ditimbang itu bukan air yang tersisa pada anggota wudu. Para ulama juga sepakat bahwa air wudu merupakan cahaya pada hari kiamat kelak.

Hukum makruh mengeringkan air wudu disamakan sebagai menghilangkan sisa ibadah. Ulama yang sepakat menjatuhi makruh dalam perkara ini berpendapat, air bertasbih selama menempel pada anggota wudu. Namun, al-Qari berkata tidak bertasbihnya air wudu ketika dikeringkan membutuhkan dalil naqli yang sahih.

Akan tetapi, dalam hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari disebutkan, yaitu: “Rasulullah tidak mengambil kain yang diberikan kepada beliau, lalu beliau beranjak sambil mengibaskan kedua tangan beliau”. Wallahu A’lam.

Rewriter : Salimah
Sumber : republika.co.id

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.