PortalMadura.com

Inilah Keturunan Tionghoa Yang Berjasa Besar Untuk Indonesia

  • Senin, 14 November 2016 | 07:00
Inilah Keturunan Tionghoa Yang Berjasa Besar Untuk Indonesia
ilustrasi

PortalMadura.Com – Siapakah Indonesia? Indonesia adalah negara dengan beragam suku, budaya, etnis dan agama. Seharusnya perbedaan tidak menjadi masalah karena kita hidup dalam satu negara yaitu Indonesia.

Meski begitu, tidak bisa dipungkiri bahwa kita masih membeda-bedakan antara satu dengan lainnya. Sudah jadi rahasia umum kalau di Indonesia ini ada semacam sikap sentimentil terhadap orang-orang keturunan Tionghoa.

Padahal, jika kita mau membuka mata, sebenarnya ada banyak orang Tionghoa yang berjasa untuk Indonesia, seperti yang di bawah ini.

Liem Koen Hian
Liem Koen Hian adalah salah satu anggota dari Badan penyelidik Usaha-Usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), yang mana sering kali mengemukakan pendapatnya dengan mengedepankan unsur nasionalis. Dia secara total sangat mendukung kemerdekaan Indonesia dan menekankan bahwa untuk mengusung wacana kemerdekaan agar semua pihak tidak mencampuradukkan sisi rasial.

Dalam pandangannya, semua masyarakat dan Pemerintah Indonesia haruslah mengakui orang-orang Tionghoa yang ada dan tinggal di Tanah Air karena mereka merupakan warga negara Indonesia yang sah.

John Lie
Tokoh satu ini mungkin sudah banyak diketahui orang, terutama di Angkatan Laut. Mayor (AL) John Lie (Lie Tjeng Tjoan) adalah seorang nahkoda yang dipercaya Pemerintah Indonesia untuk menjual komoditas negeri dan ditukarkan dengan persenjataan yang sangat dibutuhkan oleh para pejuang dalam melawan Belanda.

Pensiun dengan jabatan Laksamana dan berganti nama menjadi Jahja Daniel Dharma, baru tahun 2009 silam oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, John Lie mendapatkan pengakuan dari Pemerintah Indonesia serta dimasukkan dalam daftar pahlawan nasional karena jasanya terhadap negeri ini memang luar biasa.

Soe Hok Gie
siapa tidak kenal dengan nama Soe Hok Gie. Pada masanya, ia adalah sosok yang aktivis mahasiswa yang menggagaskan perubahan. Ia memang tidak memimpin secara langsung, tapi, ide-ide yang ia tuliskan mengonsepkan perubahan yang akhirnya dijadikan aksi nyata. Sampai tahun 1966, dengan aksi nyata dan tulisannya ia mendorong perubahan sosial dan politik di Indonesia. Selama masih menjadi mahasiswa, ia aktif memprotes Soekarno dan PKI. Ia juga merupakan penulis yang produktif dengan berbagai artikel yang diterbitkan di koran-koran seperti Kompas, Harian Kami, Sinar Harapan, Mahasiswa Indonesia, dan Indonesia Raya. Gie termasuk sosok yang memiliki andil besar dalam pembentukan sistem pemerintahan Orde Baru yang menggantikan Orde Lama.

Sejak masih SMP, ia sudah menulis buku catatan harian untuk menumpahkan perasaan dan apa yang ia pikirkan di sana. Semakin besar, ia semakin berani melawan ketidak adilan hingga berdebat dengan guru SMP-nya. Dalam catatannya, ia menulis, “Guru model begituan, yang tidak tahan dikritik boleh masuk keranjang sampah. Guru bukan dewa dan selalu benar. Dan murid bukan kerbau”. Sikapnya kritis semakin tumbuh dan berkembang hingga ia berani mengungkit soal kemiskinan dan kemapanan orang-orang kaya. Soe yang saat itu melihat seorang pengemis makan kulit mangga memberikan uangnya yang hanya 2,50 rupiah pada si pengemis. Ia menulis, “Ya, dua kilometer dari pemakan kulit mangga, ‘paduka’ kita mungkin lagi tertawa-tawa, makan-makan dengan istri-istrinya yang cantik-cantik. Aku besertamu orang-orang malang”.

Soe merasa resah ketika keadaan ekonomi semakin kacau dan rakyat jatuh miskin. Ia berpendapat bahwa ketika rakyat terlalu melarat, maka secara natural rakyat akan bergerak sendiri. Jika hal tersebut terjadi, maka akan terjadi chaos atau kekacauan. Maka lebih baik mahasiswa yang bergerak, dan dari sana lahirlah sang demonstran. Kesehariaanya diisi dengan demonstrasi dan rapat penting. Ia ingin para mahasiswa sadar bahwa mereka adalah the happy selected few yang bisa kuliah. Untuk itu mereka harus menyadari dan melibatkan diri dalam perjuangan bangsa. Sementara itu, ia juga ingin menunjukkan kepada rakyat bahwa mereka bisa mengharapkan perbaikan keadaan dengan menyatukan diri di bawah pimpinan para patriot Universitas. Sayangnya, seorang pemikir muda yang juga inspirasi lahirnya Orde Baru ini harus meninggal sehari sebelum ia berusia 27 tahun setelah pergi mendaki gunung Semeru. Ia meninggal karena menghirup gas beracun di puncak Mahameru dan meninggalkan ide-ide tentang perubahan lewat karya-karyanya.

Wan Moy
Wan Moy adalah pejuang pribumi keturunan Tionghoa yang asli dan lahir di Jawa Tengah. Dia mulai aktif berjuang untuk kemerdekaan Indonesia sejak berumur 13 tahun. Di usianya yang sangat muda, Wan Moy ditugaskan untuk menjadi mata-mata tentara Siliwangi untuk mencari segala informasi yang dimiliki Belanda.

Selain menjadi mata-mata Wan Moy juga aktif dalam Palang Merah Indonesia. Tidak pernah dia membeda-bedakan pribumi atau keturunan ketika merawat semua prajurit Indonesia yang terluka.

Joe Hin Tjio
Nama Joe Hin Tjio mungkin masih asing di telinga masyarakat Tanah Air, padahal dari tangannya ini, nama Indonesia akhirnya banyak dikenal di dunia internasional. Di era penjajahan Jepang, dia pernah ditahan karena dianggap memberontak, namun akhirnya Joe berhasil melarikan diri ke Eropa.

Di Eropa, Joe mendalami ilmu sains dan akhirnya namanya menjadi terkenal karena berhasil menetapkan jumlah koromosom manusia secara pasti dan sekaligus mematahkan teori painter. Oleh karenanya, dia sebagai orang Indonesia dianggap berjasa bagi dunia medis dan sains.

Itulah nama-nama tersebut hanyalah sebagian kecil orang Tionghoa yang berjasa untuk Indonesia. Kita perlu tahu bahwa seharusnya memang sudah tidak ada lagi alasan untuk mendiskreditkan jasa orang lain entah dari etnis apakah ia atau mendiskriminasi orang dari suku atau ras yang berbeda. Kita juga perlu mengingat bahwa Indonesia juga negara yang majemuk yang terdiri dari berbagai suku, bangsa, ras, budaya dan agama. (boombastis.com/choir)

loading...
Berita Pilihan

Hari Jadi Pamekasan

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional