PortalMadura.com

VIDEO-Legenda Keberadaan Pulau Giliyang Sumenep

  • Minggu, 28 Mei 2017 | 21:38
VIDEO-Legenda Keberadaan Pulau Giliyang Sumenep
Tebing Bagian Timur Pulau Giliyang

PortalMadura.Com, Sumenep – Penamaan Pulau Giliyang, Kecamatan Dungkek, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, ternyata baru tercatat pada tahun 2006 setelah tim pembakuan nama rupabumi melakukan verifikasi.

Semula, ada dua penyebutan, yakni “Gila Iyang“, karena awalnya dihuni orang gila dan “Gili Elang“, yakni pulau yang hilang atau pulau yang baru muncul dan tidak ditemukan pada saat Belanda menduduki wilayah Madura.

Kondisi pantainya, serupa dengan tipologi pulau yang berada di wilayah kepulauan Raja Ampat. Secara mortogenesis merupakan jenis pulau teras terangkat dan penuh goa.

Teras dan goa karang itu, disinyalir terbentuk karena proses penggerusan arus dan gelombang. Terdapat tebing indah dibagian timur pulau dan ada 10 goa yang tersebar di Desa Bancamara dan Banraas.

Pembabat Giliyang, tidak terlepas dari tiga tokoh sakti mandraguna yang datang dari Makassar, Sulawesi Selatan, yakni Andang Taruna, Jaya Prana dan Daeng Karaeng Masalle.

Sekitar tahun 1668 masehi, datang dua pria kakak beradik ke pulau Giliyang. Ia adalah Andang Taruna dan Jaya Prana, yang disebut-sebut dari Binangko, Sulawesi Selatan.

Konon, kala itu, Giliyang masih sepi dan sunyi. Yang ada hanya orang gila yang merupakan orang pendatang dan tidak jelas asal usulnya.

Andang Taruna di kenal sebagai orang yang ahli dalam pengobatan yang handal dengan menggunakan metode udara segar, sehingga mampu mengatasi orang-orang gila tersebut. Sedangkan adiknya, Jaya Prana memiliki kesaktian olah kanoragan.

Penduduk Giliyang terus bertambah, hal ini seiring dengan datangnya warga Bugis-Makasar waktu itu. Mereka yang awalnya hendak silaturrami pada dua tokoh tersebut, justru memilih bermukim dan menjadi pengikutnya.

Advertisement
Iklan Murah

Sayang, Andang Taruna wafat sekitar tahun 1672 masehi, atau tiga tahun setelah pembabatan Giliyang. Namum, penyebaran agama Islam terus dilakukan oleh adiknya, Jaya Prana.

Sekitar tahun 1766 masehi, datang lagi seorang ulama besar dari daerah yang sama, yakni Makassar, Sulawesi Selatan. Ia bernama Daeng Karaeng Masalle yang lahir tahun 1715 masehi di Makassar dan wafat tahun 1793 Masehi di Giliyang.

Ia dikenal sakti dan tercatat sebagai revolusioner pendidikan Islam Sufisme. Dalam legenda, kesaktiannya itu, ditunjukkan dalam perjalanan laut menuju Pulau Giliyang yang tidak menggunakan perahu atau kapal, melainkan diantar oleh ikan hiu putih.

Kedatangan Daeng Masalle ini, bertepatan dengan kepemimpinan keraton Sumenep dipundak Asiruddin atau Panembahan Sumolo yang mendapat gelar Pangeran Notokusumo I. Asirudin memimpin Sumenep dari tahun 1762 masehi sampai tahun 1811 masehi.

Raja Sumenep ini, merupakan penggagas berdirinya masjid jamik keraton Sumenep dengan penggabungan arsitektur cina, india, arab dan Madura. Melalui rancangan arsitek, Lauw Piango.

Hubungan keraton Sumenep dengan Giliyang tidak sekedar pembabatan, melainkan dijadikan tempat pembinaan orang yang tidak tunduk terhadap titah raja keraton Sumenep.

Kini, pulau yang memiliki luas 921,2 hektare dengan jumlah penduduk 9 ribu 185 jiwa atau 3 ribu 867 kepala keluarga (KK) ramai dikunjungi wisatawan nusantara dan mancanegera.

Mereka ingin menikmati oksigen terbaik kedua dunia setelah Yordania yang berdampak positif pada kesehatan dan membuat awet muda.

Pulau itu, menjadi salah satu destinasi wisata unggulan Pemkab Sumenep dalam program kunjungan wisata tahun 2018.(Dihimpun dari berbagai sumber/Hartono)

Advertisement
Iklan Murah
Iklan Murah
Iklan Murah
Iklan Murah
Iklan Murah
Iklan Murah
Iklan Murah
Iklan Murah
Advertisement
Iklan Murah

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional